PROGRES.ID – Sumber militer Israel mengakui situasi keamanan di front Lebanon berada dalam kondisi sangat berbahaya setelah serangan Hizbullah meningkat, sementara respons militer Israel disebut terbatas karena belum mendapat izin politik.
Menurut laporan harian Maariv, pejabat militer Israel mengatakan bahwa sebelum perang dengan Iran, Israel Defense Forces masih dapat melancarkan serangan dan operasi keamanan di Lebanon tanpa balasan dari Hizbullah. Namun, kini situasinya berubah total.
“Sekarang Hizbullah menyerang, sementara kami tidak bisa melakukan balasan terbuka karena belum ada persetujuan dari kepemimpinan politik,” kata sumber tersebut.
Pernyataan itu menandakan meningkatnya ketegangan antara militer dan pemerintah Israel terkait penanganan konflik di front utara.
Sementara itu, koresponden Channel 13 Israel, Or Heller, mengatakan Israel perlu mengakui kenyataan bahwa belum ada solusi ideal atas konflik saat ini.
Ia memperingatkan bahwa Israel berpotensi kembali terjebak dalam “rawa Lebanon”, merujuk pada keterlibatan militer Israel selama 18 tahun di Lebanon selatan sebelum penarikan pasukan pada tahun 2000.
Radio Militer Israel melaporkan sejak pagi Hizbullah telah mengklaim lima serangan yang menyasar pasukan Israel di wilayah Lebanon selatan. Kelompok itu juga belum memberikan penjelasan terkait empat roket yang ditembakkan ke arah Shtula.

Media Israel menyebut Hizbullah kini tidak hanya menyerang pasukan Israel di dalam wilayah Lebanon, tetapi juga mulai memperluas jangkauan operasi ke wilayah di dalam Israel.
Analis keamanan Israel menilai Hizbullah tengah berupaya menciptakan persamaan baru, yakni setiap serangan Israel di wilayah utara Sungai Litani akan dibalas dengan tembakan roket ke permukiman dan kawasan sipil Israel.
Perkembangan ini memperbesar kekhawatiran bahwa konflik di perbatasan utara dapat berubah menjadi perang terbuka yang lebih luas, di tengah belum adanya strategi politik maupun militer yang jelas dari pemerintah Benjamin Netanyahu.












