Israel Batasi Penggunaan Rudal Pencegat Canggih di Tengah Serangan Iran dan Hizbullah

favicon progres.id
salah satu bangunan di tel aviv hancur
Salah satu bagian yang terdampak parah akibat serangan Iran di Tel Aviv (Foto: Telegram)

PROGRES.ID – Militer Israel dilaporkan mulai membatasi penggunaan rudal pencegat tingkat atas untuk menghadapi serangan rudal Iran dan Hizbullah yang terus berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini diambil untuk menghemat persediaan sistem pertahanan udara paling canggih yang jumlahnya terbatas.

Keputusan tersebut mencuat setelah dua rudal balistik Iran dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan dan menghantam wilayah Dimona serta Arad. Kegagalan pencegatan disebut terjadi setelah militer Israel mencoba menggunakan amunisi pencegat yang telah dimodifikasi dari sistem pertahanan lapis menengah, bukan interseptor utama.

Analis senior dari Missile Defense Advocacy Alliance, Tal Inbar, mengatakan bahwa keterbatasan stok menjadi faktor utama di balik strategi tersebut. Menurutnya, setiap jenis interseptor memiliki jumlah terbatas dan akan terus berkurang seiring berlangsungnya konflik, sehingga penggunaan harus diperhitungkan secara cermat.

Selama ini, Israel mengandalkan sistem pertahanan udara berlapis untuk menghadapi berbagai ancaman. Lapisan pertama adalah Iron Dome yang digunakan untuk mencegat roket jarak pendek. Lapisan berikutnya adalah David’s Sling yang dirancang untuk menghadapi roket jarak jauh dan rudal taktis. Sementara pada lapisan teratas terdapat sistem Arrow 2 dan Arrow 3 yang digunakan untuk mencegat rudal balistik, termasuk di luar atmosfer.

Untuk menghemat penggunaan rudal Arrow yang mahal dan terbatas, militer Israel disebut melakukan peningkatan perangkat lunak pada sistem pertahanan lapis menengah agar dapat menghadapi ancaman yang lebih berat.

Mantan Komandan Pertahanan Udara Israel, Brigadir Jenderal (Purn) Ran Kochav, menjelaskan bahwa sistem pertahanan lapis menengah kini diupayakan untuk bekerja pada level yang lebih tinggi dari kemampuan awalnya. Menurutnya, sistem tersebut dicoba untuk melakukan pencegatan lebih jauh dari wilayah daratan. Di beberapa wilayah strategi itu dinilai berhasil, namun di wilayah lain tidak berjalan efektif.

Ia juga menambahkan bahwa sistem Iron Dome yang sebelumnya dirancang untuk menghadapi ancaman jarak dekat kini telah mengalami modifikasi sehingga mampu mencegat roket jarak lebih jauh serta drone.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *