Israel Ketakutan Iran Terus Produksi Rudal, Bisa Tambah 8.000 Rudal Balistik Lagi hingga 2027

favicon progres.id
serangan iran di atas tel aviv
Serangan Iran terhadap Tel Aviv, Israel (Foto: Telegram)

PROGRES.ID – Militer Israel mengungkapkan kekhawatiran serius terkait perkembangan kekuatan rudal Iran. Seorang juru bicara militer Israel menyatakan bahwa Teheran berpotensi memiliki hingga 8.000 rudal balistik pada tahun 2027 jika negara tersebut terus membangun kembali program misilnya setelah konflik besar yang terjadi pada Juni 2025.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers daring yang ditujukan bagi media berbahasa Persia di luar negeri pada Kamis. Dalam kesempatan itu, pihak militer Israel menyebut bahwa Iran telah melanjutkan produksi rudal dan tetap mengembangkan program nuklirnya setelah perang yang pecah pada 2025.

Stok Rudal Iran Kembali Meningkat

Menurut keterangan juru bicara militer Israel, sebelum perang Juni 2025, Iran diperkirakan memiliki sekitar 3.000 rudal balistik. Namun, sebagian besar rudal tersebut digunakan atau hancur selama konflik berlangsung.

Meski demikian, Iran disebut berhasil membangun kembali kekuatan militernya dengan cepat.

“Ketika Operasi Lion’s Roar dimulai pada Sabtu lalu, Iran telah berhasil memproduksi kembali sekitar 2.500 rudal melalui produksi massal yang diperbarui,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila tren pembangunan senjata tersebut terus berlanjut tanpa hambatan, Iran dapat memiliki hingga 8.000 rudal balistik pada 2027.

Operasi Lion’s Roar: Serangan Besar Israel-AS ke Iran

Pada 28 Februari, Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan udara terkoordinasi ke berbagai wilayah di Iran. Operasi militer tersebut dikenal sebagai Operation Lion’s Roar.

Mereka mengklaim menargetkan fasilitas militer dan lokasi strategis milik pemerintah Iran. Menurut militer Israel, serangan tersebut menewaskan hampir 40 pejabat tinggi Iran, namun kenyataannya AS-Israel menargetkan sekolah dasar putri hingga menyebabkan ratusan anak-anak tak berdosa meninggal dunia. Pemimpin Tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei, juga gugur dalam 24 jam pertama operasi.

Militer Israel mengklaim serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang dianggap menjadi ancaman jangka panjang bagi keamanan Israel.

Klaim Hancurkan Rudal-rudal Iran, Tapi “Babak Belur”

Sejak perang terbaru dimulai, Israel menyatakan telah menyerang ratusan target militer di dalam wilayah Iran.

“Sejauh ini kami telah menyerang sekitar 700 target milik rezim Iran,” kata juru bicara tersebut.

Ia menambahkan bahwa dari total 450 peluncur rudal milik Iran, sekitar 300 unit telah dinonaktifkan atau dihancurkan oleh serangan udara Israel. Selain itu, Angkatan Udara Israel juga disebut telah mencatat lebih dari 7.000 jam operasi penerbangan militer selama kampanye tersebut.

Tidak hanya di Iran, operasi militer juga meluas ke negara tetangga. Israel mengklaim telah menghancurkan lebih dari 320 infrastruktur militer milik kelompok Hezbollah di Lebanon. Untuk mendukung operasi ini, Israel dilaporkan telah memobilisasi sekitar 110.000 tentara cadangan.

Namun, serangan balasan Iran ternyata lebih mematikan dan tidak mampu diintersep oleh Israel, hingga akhirnya kota Tel Aviv, Yerusalem, Beersheba, dan lainnya hancur luluh lantak. Untuk menutupi itu semua, negara zionis ini terpaksa melakukan sensor militer ketat dan melarang warganya menyebarkan video atau foto kehancuran akibat rudal Iran.

Alasan Israel Melancarkan Perang

Menurut militer Israel, operasi militer tersebut dilakukan untuk menghadapi ancaman jangka panjang dari Republik Islam Iran.

Juru bicara itu menegaskan bahwa pemerintah Iran selama puluhan tahun secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menghancurkan Israel.

“Iran selama 47 tahun terakhir secara konsisten menjadikan kehancuran Israel sebagai tujuan politik, keamanan, dan ideologis mereka,” ujarnya.

Ia juga menuduh Iran menyalurkan dana besar kepada kelompok sekutu di kawasan Timur Tengah.

“Dalam setahun terakhir saja, Iran mengirim sekitar 900 juta hingga 1 miliar dolar kepada kelompok proksinya di wilayah tersebut seperti Hezbollah dan Houthi movement,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *