Jeffrey Sachs: Perang AS–Israel Melawan Iran Bisa Picu Krisis Global hingga Perang Dunia

favicon progres.id
kebakaran di pembangkit listrik tel aviv
Pembangkit listrik di Israel dihantam rudal Iran hingga menyebabkan kebakaran besar dan pemadaman listrik di sebagian wilayah Tel Aviv (Sumber: X/Telegram)

PROGRES.ID – Ekonom dan analis geopolitik terkemuka, Jeffrey Sachs, memperingatkan bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi membawa dunia ke dalam krisis global besar, bahkan membuka jalan menuju perang dunia.

Peringatan tersebut ia sampaikan dalam wawancara dengan CGTN ketika membahas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah pernyataan keras dari pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.

Iran Disebut Sedang Menghadapi Serangan Brutal

Dalam wawancara tersebut, Sachs menilai situasi yang dihadapi Iran saat ini merupakan perang agresi yang sangat brutal.

Menurutnya, infrastruktur Iran terus dibombardir dan banyak warga sipil menjadi korban.

“Iran sedang berada di bawah serangan yang sangat brutal. Infrastruktur dihancurkan, pemimpin mereka dibunuh, dan ribuan orang telah tewas,” kata Sachs.

Ia menilai tidak mengherankan jika Iran merespons dengan perlawanan keras karena negara tersebut merasa menghadapi ancaman eksistensial.

Klaim Kemenangan AS Dipertanyakan

Sachs juga menanggapi pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengklaim bahwa Amerika telah memenangkan perang.

Menurutnya, klaim tersebut tidak memiliki dasar jelas karena tujuan sebenarnya dari operasi militer tersebut bahkan belum terdefinisi dengan baik.

“Tidak ada skenario kemenangan nyata bagi Amerika Serikat dalam konflik ini,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut perang tersebut sebagai bencana bagi Amerika dan dunia.

Ancaman Perang Dunia

Sachs memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah bisa memicu konflik global yang lebih luas.

Menurutnya, Amerika Serikat saat ini terlibat dalam berbagai ketegangan militer di sejumlah wilayah dunia, mulai dari konflik di Eropa Timur hingga berbagai krisis geopolitik lainnya.

“Ketika kita melihat kembali beberapa minggu atau bulan ke depan, kita mungkin akan mengatakan bahwa Perang Dunia Ketiga telah dimulai,” kata Sachs.

Ia menilai kebijakan luar negeri Washington saat ini sangat berisiko dan tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Krisis Energi Global

Selain risiko konflik militer, Sachs juga menyoroti dampak besar perang terhadap ekonomi dunia.

Ia merujuk pada peringatan dari International Energy Agency yang menyebut gangguan pasokan energi akibat konflik ini sebagai yang terburuk dalam sejarah.

Penutupan jalur energi penting seperti Selat Hormuz menyebabkan pasokan minyak dan gas global terganggu secara signifikan.

Akibatnya, harga energi melonjak dan berpotensi memicu krisis ekonomi global.

“Jika situasi ini terus berlanjut, tahun ini bisa menjadi bencana ekonomi bagi dunia,” kata Sachs.

Strategi Asimetris Iran

jeffrey sachs
Jeffrey Sachs (Sumber foto: Zeit.de)

Sachs menjelaskan bahwa strategi Iran dalam menghadapi tekanan militer Amerika dan sekutunya adalah dengan pendekatan asimetris.

Iran menargetkan kepentingan ekonomi dan infrastruktur energi negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk Persia.

Langkah tersebut bertujuan meningkatkan biaya konflik bagi pihak lawan.

Menurutnya, dari perspektif Iran, konflik ini adalah perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan nasional.

“Pertanyaan sebenarnya adalah siapa yang akan memerintah Iran—rakyat Iran sendiri atau Amerika Serikat,” ujarnya.

AS Dinilai Kerap Meremehkan Lawan

Sachs juga menilai Washington berulang kali meremehkan lawan-lawannya dalam berbagai konflik sepanjang sejarah.

Ia menyebut contoh seperti Perang Vietnam, di mana Amerika Serikat yang memiliki keunggulan militer akhirnya gagal mencapai tujuannya.

Menurutnya, kesalahan perhitungan serupa kini kembali terjadi dalam konflik dengan Iran.

“Amerika sering mengira perang akan selesai dalam hitungan minggu, tetapi akhirnya berlangsung selama bertahun-tahun,” katanya.

Risiko Invasi Darat

Meski Presiden Trump tidak menutup kemungkinan invasi darat ke Iran, Sachs menilai skenario tersebut sangat kecil kemungkinan terjadi.

Ia menilai masyarakat Amerika tidak akan mendukung perang darat besar setelah pengalaman pahit konflik sebelumnya.

Selain itu, kondisi geografis Iran yang luas dan bergunung-gunung akan membuat invasi darat menjadi sangat mahal dan berisiko tinggi bagi militer AS.

Kritik terhadap Perang Berkepanjangan

Dalam wawancara tersebut, Sachs juga menyoroti apa yang sering disebut sebagai “perang tanpa akhir” Amerika di berbagai kawasan dunia.

Ia menilai kebijakan tersebut telah menimbulkan kerusakan besar serta korban jiwa dalam jumlah sangat besar selama beberapa dekade terakhir.

Menurut Sachs, konflik di Timur Tengah seharusnya dapat dihindari jika solusi politik yang adil, termasuk pembentukan negara Palestina berdampingan dengan Israel, benar-benar dijalankan.

“Tanpa solusi politik yang adil, perang di kawasan ini akan terus berulang,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Sachs menegaskan bahwa dunia perlu mengambil langkah untuk menghentikan eskalasi konflik sebelum situasinya berkembang menjadi krisis global yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *