PROGRES.ID – Komandan militer tertinggi Iran, Ali Abdollahi, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait rencana blokade laut di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.
Dalam pernyataannya pada Rabu, Abdollahi yang memimpin Markas Pusat Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa setiap upaya menghambat perdagangan maritim Iran akan dibalas dengan tindakan tegas.
Ia menyebut, langkah Washington untuk melanjutkan blokade terhadap kapal dagang dan tanker minyak Iran dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang tengah berlangsung.
“Jika tindakan ilegal ini terus berlanjut dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal-kapal Iran, maka hal itu akan menjadi awal pelanggaran gencatan senjata,” ujarnya.
Abdollahi juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam dan siap mengambil langkah kuat untuk melindungi kedaulatan serta kepentingan nasionalnya. Ia bahkan memperingatkan bahwa aktivitas ekspor-impor di jalur strategis seperti Selat Hormuz, Teluk Persia, Laut Oman, hingga Laut Merah dapat terdampak jika situasi memburuk.
Ketegangan ini muncul setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April, menyusul konflik yang melibatkan AS dan Israel. Namun, perundingan damai di Islamabad gagal mencapai kesepakatan, yang menurut pihak Iran disebabkan oleh tuntutan berlebihan dari Washington.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Iran pada Senin. Ia menyatakan Angkatan Laut AS akan mencegat setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari wilayah pesisir Iran.
Meski demikian, implementasi kebijakan tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif. Data pelayaran menunjukkan sejumlah kapal tetap melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan berarti. Pada hari pertama penerapan blokade, setidaknya delapan kapal dilaporkan berhasil melewati jalur tersebut.
Kondisi ini menambah ketidakpastian di sektor pelayaran dan energi global. Aktivitas di Selat Hormuz disebut masih jauh di bawah normal, yang sebelumnya mencapai lebih dari 130 kapal per hari sebelum konflik pecah pada 28 Februari.
Komando Pusat AS, United States Central Command, mengklaim telah menetapkan zona pengawasan seluas sekitar 21.000 mil persegi di sepanjang pantai Iran, dengan dukungan belasan kapal perang serta pemantauan radar dan patroli udara. Tujuan utamanya adalah membatasi ekspor minyak Iran.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebut sebuah tanker milik China yang terkena sanksi AS, kembali berlabuh di dekat perairan Iran setelah sempat melintasi Selat Hormuz.
Kapal bernama Rich Starry itu sebelumnya keluar dari selat, namun berbalik arah di Laut Oman, wilayah yang disebut menjadi bagian dari operasi pengawasan AS.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa kebijakan blokade berpotensi memperburuk situasi ekonomi global. Risiko kenaikan harga minyak, tekanan pada pasar saham, serta lonjakan inflasi menjadi kekhawatiran utama.
Kolumnis Bloomberg, Marc Champion, menilai strategi tersebut hanya akan efektif jika Iran tidak merespons dengan menyerang aset energi di kawasan. Ia meragukan skenario tersebut akan terjadi.
Menurutnya, langkah blokade justru berisiko memicu eskalasi yang sulit dikendalikan dan kecil kemungkinan memberikan keuntungan strategis bagi Washington.










