PROGRES.ID – Sebuah kebakaran kecil di ruang laundry kapal induk USS Gerald R. Ford mungkin tampak seperti insiden biasa. Namun, bagi sejumlah analis militer, peristiwa tersebut justru membuka cerita yang jauh lebih besar tentang tekanan teknis dan manusiawi di balik pengoperasian kapal perang paling mahal yang pernah dibangun.
Profesor pendidikan dan analis geopolitik Jiang Xueqin menjelaskan bahwa pernyataan resmi dari US Central Command hanya menyampaikan fakta minimum: kebakaran non-tempur terjadi, dua pelaut mengalami luka ringan, api berhasil dipadamkan, dan kapal tetap beroperasi.
“Semua fakta itu benar,” kata Jiang. “Tetapi semuanya dipilih secara hati-hati sehingga tidak menjelaskan mengapa itu terjadi atau apa yang sebenarnya sedang dialami kapal tersebut.”
9 Bulan di Laut Tanpa Kepastian Pulang
Menurut Jiang, kebakaran tersebut hanyalah satu bab dari kisah panjang yang dialami lebih dari 4.500 pelaut di kapal induk itu.
Kapal raksasa tersebut meninggalkan pangkalan Naval Station Norfolk di Virginia pada 24 Juni 2025 untuk misi rutin di kawasan Eropa. Awalnya, penugasan itu diperkirakan berlangsung sekitar tujuh hingga delapan bulan.
Namun, rencana tersebut berubah berkali-kali.
Kapal induk itu sempat dialihkan ke Karibia untuk operasi antinarkotika sebelum kembali ke Eropa. Ketika ketegangan meningkat dengan Iran pada awal 2026, kapal tersebut kembali dikerahkan ke kawasan Mediterania.
Pada 5 Maret 2026, kapal itu bahkan melakukan langkah yang belum pernah dilakukan kapal kelasnya sebelumnya: melintasi Terusan Suez dan memasuki Laut Merah untuk mendukung operasi militer AS yang dikenal sebagai Operation Epic Fury.
Hingga kini, kapal tersebut telah berada di laut lebih dari 260 hari dan diperkirakan bisa mencapai hampir 300 hari sebelum kembali ke Amerika Serikat.
Tekanan Teknis di Kapal Perang Termahal Dunia
Dengan biaya pembangunan sekitar 13,3 miliar dolar dan total program mencapai sekitar 37 miliar dolar, USS Gerald R. Ford adalah kapal perang paling mahal dalam sejarah.
Namun kapal ini juga membawa banyak teknologi baru yang belum pernah digunakan secara bersamaan sebelumnya, termasuk sistem peluncur pesawat elektromagnetik dan berbagai sistem otomatis canggih.
Menurut Jiang, kombinasi teknologi baru tersebut sejak awal telah menimbulkan berbagai masalah teknis yang masih terus muncul selama operasi intensif di laut.
Salah satu masalah paling serius justru berasal dari sistem sanitasi kapal.
Dokumen internal Angkatan Laut yang diperoleh media menunjukkan bahwa dalam periode empat hari saja, kapal tersebut mengalami lebih dari 200 gangguan pada sistem pembuangan limbah. Kerusakan itu menyebabkan antrean panjang di toilet dan memicu kondisi yang memengaruhi kenyamanan serta moral awak kapal.
Perbaikan permanen sebenarnya memerlukan perawatan besar di dok kering. Namun, jadwal perawatan tersebut tertunda karena kapal terus dikerahkan dalam operasi militer.
Keletihan Awak Kapal
Selain masalah teknis, Jiang menekankan bahwa faktor manusia juga menjadi isu besar.
Penelitian dari National Institutes of Health menunjukkan bahwa pelaut yang bertugas lama di laut dengan waktu tidur kurang dari enam jam per hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesalahan operasional.
Studi tersebut juga menemukan bahwa performa operasi biasanya mulai menurun setelah sekitar tujuh bulan di laut.
Sementara itu, awak USS Gerald R. Ford telah melampaui batas tersebut.
Beberapa pelaut bahkan secara terbuka mengatakan kepada media seperti The Wall Street Journal bahwa mereka mempertimbangkan untuk meninggalkan Angkatan Laut setelah penugasan ini selesai.
Ada pula kisah pribadi yang menggambarkan tekanan psikologis yang mereka alami—mulai dari pelaut yang tidak dapat menghadiri pemakaman anggota keluarga hingga orang tua yang harus menyaksikan pertumbuhan anaknya hanya melalui panggilan video.
Dampak bagi Kesiapan Militer AS
Menurut Jiang, konsekuensi dari penugasan panjang ini tidak hanya berdampak pada kapal tersebut, tetapi juga pada kesiapan armada secara keseluruhan.
Amerika Serikat memiliki 11 kapal induk nuklir yang beroperasi dalam siklus rotasi: sebagian bertugas, sebagian berlatih, dan sebagian menjalani perawatan.












