AADI Tebar Dividen Jumbo Rp 7,9 Triliun, Investor Berpotensi Kantongi Rp 453 per Saham

favicon progres.id
coal tambang batu bara
Penambangan batu bara (Ilustrasi: Getty)

PROGRES.ID – Pemegang saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) resmi menyetujui pembagian dividen tahun buku 2025 senilai US$ 450 juta atau sekitar Rp 7,9 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar Jumat (22/5/2026).

Nilai tersebut mencerminkan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR) sebesar 59% dari laba perusahaan.

Dengan total dividen itu, pemegang saham diperkirakan akan menerima dividen final sekitar US$ 0,026 per saham atau setara Rp 453 per saham menggunakan asumsi kurs Rp 17.654 per dolar AS.

Analis Stockbit Sekuritas menilai pembagian dividen tersebut memberikan potensi imbal hasil yang menarik bagi investor.

“Dividen AADI mengindikasikan yield dividen final sebesar 5,6% berdasarkan harga saham intraday AADI di level Rp 8.100,” tulis Stockbit Sekuritas dalam risetnya, Jumat (22/5/2026).

Manajemen AADI hingga kini belum mengumumkan jadwal cum dividen maupun tanggal pembayaran dividen final tersebut. Sebelumnya, perseroan telah lebih dulu membagikan dividen interim sebesar Rp 538 per saham pada November 2025.

Di sisi lain, kinerja keuangan AADI pada kuartal I-2026 tercatat belum memenuhi ekspektasi pasar. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$ 143 juta, turun 27% secara tahunan (year on year/yoy) dan melemah 17% dibanding kuartal sebelumnya (quarter on quarter/qoq).

Analis MNC Sekuritas, Raka Junico W, menyebut realisasi laba bersih tersebut masih berada di bawah proyeksi internal maupun konsensus pasar.

“Pencapaian laba bersih AADI baru sekitar 15% dari estimasi setahun penuh 2026,” tulisnya dalam laporan riset.

Meski demikian, MNC Sekuritas memperkirakan produksi batu bara AADI mulai pulih pada kuartal II-2026 seiring membaiknya kondisi cuaca setelah siklus El Nino mereda.

Produksi batu bara AADI sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 68,6 juta ton atau relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara volume penjualan diperkirakan turun menjadi 71,8 juta ton dari sebelumnya 75,1 juta ton pada 2025.

Penurunan volume tersebut dinilai masih dapat tertutupi oleh kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara.

Atas dasar itu, MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham AADI dengan target harga di level Rp 13.750 per saham.

Target tersebut merefleksikan estimasi valuasi price to earnings ratio (PER) sebesar 6,6 kali dan price to book value (PBV) 1,4 kali untuk tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *