PROGRES.ID – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan adanya dugaan manipulasi pasar yang dilakukan melalui penyebaran informasi menyesatkan di media Barat, terutama di tengah meningkatnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dalam pernyataannya di media sosial X pada Minggu malam, Qalibaf mengingatkan bahwa berita yang beredar sebelum pasar dibuka sering kali bukan informasi murni, melainkan bagian dari strategi untuk memengaruhi pergerakan pasar demi keuntungan pihak tertentu. Ia menyebut informasi semacam itu kerap digunakan untuk mendorong pelaku pasar mengambil keputusan yang menguntungkan pihak dalam (insider).
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, beberapa kali menyampaikan klaim mengenai adanya pembicaraan yang disebut berjalan produktif dengan Iran. Pernyataan itu sempat memicu kenaikan pasar saham dan penurunan harga minyak dunia, sebelum kemudian dibantah oleh pihak Iran yang menegaskan tidak ada negosiasi seperti yang disebutkan.
Menurut Qalibaf, pola informasi yang berubah-ubah seperti ini dinilai sebagai bagian dari strategi perang ekonomi yang bertujuan menciptakan volatilitas pasar. Dengan kondisi pasar yang tidak stabil, pihak tertentu disebut bisa mengambil keuntungan besar dari perubahan harga yang tajam.
Ia juga menilai praktik tersebut merupakan bagian dari perang psikologis dan ekonomi yang lebih luas, yang tidak hanya dilakukan melalui sanksi dan tekanan ekonomi, tetapi juga melalui penyebaran informasi yang dapat memengaruhi persepsi publik dan pelaku pasar.
Qalibaf menambahkan bahwa dalam situasi konflik yang memanas, informasi yang beredar sering kali dimanfaatkan untuk menciptakan kepanikan di pasar, menekan nilai aset tertentu, atau justru menaikkan harga sebelum akhirnya berbalik arah. Ia pun mengingatkan investor di Iran dan kawasan untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi informasi yang beredar, terutama yang muncul menjelang pembukaan pasar.












