PROGRES.ID – Militer Israel melaporkan jumlah prajuritnya yang terluka sejak dimulainya pertempuran di Lebanon selatan selama 45 hari terakhir telah mencapai 690 orang. Dari total tersebut, 42 di antaranya berada dalam kondisi serius, sementara sekitar 100 lainnya mengalami luka sedang.
Menurut laporan radio militer Israel, insiden terbaru terjadi pada siang hari, 18 April 2026, saat pasukan dari Batalyon 7056 menjalankan operasi di Desa Jibbin, wilayah garis kedua di sektor barat Lebanon selatan, sekitar tiga kilometer dari perbatasan.
Sekitar pukul 12.00 waktu setempat, pasukan memasuki sebuah bangunan untuk melakukan penyisiran. Namun, saat proses penggeledahan berlangsung, sebuah alat peledak tiba-tiba meledak di dalam lokasi tersebut.
Penilaian awal militer Israel atau Israel Defense Forces menyebutkan bahan peledak itu kemungkinan telah dipasang sebelum gencatan senjata diberlakukan. Karena itu, insiden tersebut untuk sementara tidak dikategorikan sebagai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.
Pihak militer masih melakukan penyelidikan lebih lanjut guna mengetahui penyebab ledakan serta alasan alat peledak tersebut tidak terdeteksi sebelumnya.

Dalam insiden tersebut, satu prajurit dilaporkan tewas setelah mengalami luka kritis dan sempat dievakuasi ke rumah sakit. Sementara itu, tiga prajurit lainnya mengalami luka dengan tingkat sedang hingga ringan.
Ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah sebelumnya sempat mereda setelah tercapainya gencatan senjata, yang disebut terjadi di tengah tekanan dari Iran. Namun, insiden terbaru ini menunjukkan situasi keamanan di wilayah tersebut masih rentan.










