PROGRES.ID – Sejumlah media Israel mulai melontarkan kritik tajam terhadap operasi militer negaranya di Lebanon, dengan menyebut Tel Aviv justru terjebak dalam konflik yang semula diyakini dapat menjebak Hizbullah.
Jurnalis senior Yoav Limor dalam harian Israel Hayom menulis bahwa Israel sebelumnya mengira telah menempatkan Hizbullah dalam perangkap strategis. Namun, menurut dia, keadaan justru berbalik dan Israel kini berada di dalam jebakan tersebut.
Ia memperingatkan bahwa jika pemerintah dan militer Israel tidak segera menemukan jalan keluar, maka musim semi dan musim panas tahun ini dapat berubah menjadi “musim dingin Lebanon yang berdarah” bagi pasukan Israel Defense Forces.
Pernyataan senada datang dari analis militer Avi Ashkenazi di surat kabar Maariv. Ia menyebut militer Israel kini mulai menyadari bahwa negara itu telah kalah dalam kampanye militer yang sedang berlangsung di Lebanon.
Menurut Ashkenazi, Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, harus segera mengambil langkah cepat untuk mencegah situasi semakin memburuk.
Komentar dua media arus utama Israel tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di dalam negeri atas perang yang berkepanjangan di front utara. Operasi yang awalnya diklaim bertujuan melemahkan Hizbullah kini justru dinilai menguras kekuatan militer, memperbesar tekanan politik, dan meningkatkan risiko korban di pihak Israel.
Jika konflik terus berlanjut tanpa strategi keluar yang jelas, tekanan terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu diperkirakan akan semakin besar, terutama dari kalangan keamanan dan publik Israel sendiri.










