Media Israel Soroti Menurunnya Kepercayaan Publik, Respons Iran Dinilai Guncang Perhitungan Tel Aviv

favicon progres.id
rudal sejjil
Rudal Sejjil (Foto: Tasnim News)

PROGRES.ID – Kepercayaan publik Israel terhadap arah kebijakan pemerintah dalam konflik kawasan dilaporkan terus menurun seiring berlanjutnya operasi militer di Lebanon dan ketidakjelasan strategi menghadapi Iran.

Analis militer harian Israel Israel Hayom, Yoav Limor, menulis bahwa operasi yang masih berlangsung di Lebanon serta pertanyaan mengenai kebijakan jangka panjang terhadap Iran mulai memunculkan keraguan luas di kalangan masyarakat Israel. Menurutnya, tingkat kepercayaan publik mengalami erosi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Limor juga mempertanyakan efektivitas serangkaian serangan yang dilakukan terhadap Iran dalam beberapa waktu terakhir. Ia menilai belum ada bukti kuat bahwa langkah tersebut benar-benar berhasil memberikan efek jera kepada Teheran.

Menurut analisis yang dimuat media tersebut, banyak pihak di Iran justru melihat hasil konfrontasi terakhir sebagai keberhasilan strategis. Meski mengalami serangan militer, Teheran diyakini merasa mampu bertahan selama berminggu-minggu menghadapi tekanan dan keluar dari konflik dengan posisi yang relatif lebih kuat.

Pandangan tersebut, tulis Limor, semakin menguat karena Amerika Serikat dinilai menjalankan proses negosiasi secara tidak konsisten, sementara ancaman penggunaan kekuatan militer tidak selalu diikuti tindakan nyata. Di sisi lain, negara-negara Teluk disebut terus mendorong upaya meredakan konflik karena khawatir infrastruktur strategis mereka menjadi sasaran apabila perang kembali meluas.

Sementara itu, Israel Hayom juga mengungkap informasi baru terkait serangan Israel ke kawasan selatan Beirut yang sebelumnya memicu ancaman balasan dari Iran.

Mengutip sumber-sumber keamanan, surat kabar tersebut melaporkan bahwa kemungkinan respons militer dari Iran sebenarnya telah dibahas sebelum operasi dilakukan. Bahkan, peluang terjadinya serangan balasan disebut telah dinilai cukup tinggi dan sudah disampaikan kepada tingkat pengambil keputusan politik.

Meski demikian, keputusan untuk tetap melancarkan serangan di Beirut akhirnya tetap diambil.

Setelah operasi tersebut berlangsung, intelijen militer Israel dilaporkan meningkatkan tingkat kewaspadaan terhadap kemungkinan serangan rudal dari Iran. Namun laporan itu menyebut kesiapan sistem pertahanan dan mekanisme peringatan kepada publik tidak dilakukan secepat yang diharapkan.

Menurut sumber keamanan yang diwawancarai Israel Hayom, informasi dan penilaian ancaman sebenarnya telah tersedia lebih awal. Namun proses penyampaian informasi kepada sejumlah pihak terkait berlangsung lebih lambat dari perkiraan.

Akibatnya, masyarakat Israel baru menerima peringatan dalam waktu yang sangat singkat sebelum ancaman serangan benar-benar terdeteksi. Militer Israel disebut baru mengeluarkan peringatan publik setelah memantau peluncur rudal Iran berada dalam posisi siap digunakan.

Laporan tersebut juga menyebut sebagian pejabat keamanan sebelumnya memperkirakan masih tersedia waktu yang lebih panjang untuk melakukan persiapan. Namun tingkat kesiagaan tinggi yang dimiliki Iran membuat proses peluncuran rudal dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit.

Temuan ini kembali memicu perdebatan di Israel mengenai efektivitas sistem peringatan dini, proses pengambilan keputusan strategis, serta kemampuan pemerintah dalam mengelola risiko di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Iran dan Lebanon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *