PROGRES.ID – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memperingatkan pemerintah Inggris bahwa keterlibatan dalam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dapat membahayakan warga Inggris. Peringatan tersebut ditujukan kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang dinilai telah mengizinkan pangkalan militer Inggris digunakan untuk mendukung operasi militer AS dan Israel.
Araqchi menyatakan bahwa sebagian besar rakyat Inggris sebenarnya tidak menginginkan negaranya terlibat dalam konflik tersebut. Dalam pernyataannya di media sosial X, ia menegaskan bahwa keputusan pemerintah Inggris justru berisiko menempatkan nyawa warga Inggris dalam bahaya.
Ia juga menegaskan kembali bahwa Iran memiliki hak sah untuk membela diri atas serangan yang terjadi. Menurutnya, setiap bentuk dukungan terhadap serangan militer terhadap Iran akan dianggap sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam agresi.
Dalam perkembangan terkait, Araqchi juga melakukan percakapan telepon dengan pejabat Inggris Yvette Cooper pada Jumat, di mana ia mengecam keputusan Inggris yang mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut akan tercatat dalam sejarah hubungan kedua negara.
Araqchi juga memperingatkan bahwa bantuan apa pun kepada pihak yang menyerang Iran hanya akan memperburuk situasi dan meningkatkan ketegangan di kawasan. Ia mendesak pemerintah Inggris untuk segera menghentikan kerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel, termasuk dukungan media yang dinilai memicu tindakan permusuhan terhadap Iran.
Selain itu, Araqchi mengkritik Inggris dan beberapa negara lain yang tidak mengecam serangan terhadap ladang gas South Pars, namun justru mengecam serangan balasan Iran terhadap fasilitas yang terkait dengan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Araqchi menegaskan bahwa Iran menjalankan hak membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB dan menekankan bahwa Iran selama ini tetap menghormati kedaulatan negara-negara tetangganya.
Sementara itu, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali memanas setelah serangan udara dilaporkan terjadi pada 28 Februari, beberapa bulan setelah konflik sebelumnya dimulai. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.










