PROGRES.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa Iran tidak sedang melakukan negosiasi dengan pihak mana pun dan tetap melanjutkan kebijakan perlawanan terhadap serangan yang ditujukan kepada negara tersebut.
Dalam wawancara yang disiarkan televisi pada Rabu (25/03/2026), Araqchi menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada pembicaraan resmi yang berlangsung. Menurutnya, meskipun terdapat komunikasi diplomatik dengan sejumlah negara di kawasan, posisi Teheran tidak berubah.
Ia mengatakan banyak menteri luar negeri dari negara-negara regional telah menghubungi Iran, namun sikap Iran tetap sama, yakni mempertahankan kebijakan yang disebutnya sebagai sikap prinsip dan tegas.
Araqchi juga menyatakan bahwa Iran tidak dapat sepenuhnya bergantung pada jaminan internasional dalam menghentikan perang. Menurutnya, jaminan yang paling efektif adalah kemampuan Iran sendiri untuk melakukan serangan balasan, yang menurutnya menjadi faktor pencegah agar serangan serupa tidak terjadi lagi di masa depan.
Ia menambahkan bahwa gencatan senjata tanpa jaminan yang jelas hanya akan memicu perang berulang di kemudian hari. Karena itu, menurutnya, pihak lawan harus menerima konsekuensi agar konflik serupa tidak kembali terjadi, termasuk kompensasi atas kerusakan yang dialami Iran.
Dalam pernyataannya, Araqchi juga menyinggung keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan. Ia menilai keberadaan pangkalan tersebut justru membuat negara tuan rumah menjadi sasaran serangan dan meningkatkan risiko keamanan, bukan memberikan perlindungan.
Ia merujuk pada sejumlah serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara kawasan sebagai respons atas konflik yang sedang berlangsung. Menurutnya, serangan tersebut terjadi karena adanya pangkalan militer asing yang digunakan dalam operasi militer terhadap Iran.
Araqchi juga menyampaikan pesan kepada negara-negara di kawasan agar tidak terlibat dalam konflik dan tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk operasi militer terhadap Iran.
Selain itu, ia menyatakan bahwa serangan balasan Iran dalam konflik ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah negara tersebut. Ia mengklaim Iran berhasil menggagalkan sejumlah tujuan militer lawan, termasuk upaya untuk melemahkan negara dan memecah persatuan internal.
Terkait Selat Hormuz, Araqchi mengatakan jalur strategis tersebut tetap dibuka untuk negara-negara yang dianggap sebagai mitra Iran, namun ditutup bagi negara yang dianggap sebagai musuh. Ia menyebut beberapa negara yang masih diizinkan melintas antara lain China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa di tengah meningkatnya tekanan militer dan diplomatik, Iran menegaskan tetap bertahan pada strategi perlawanan dan belum menunjukkan tanda akan memasuki perundingan resmi dalam waktu dekat.












