Netanyahu Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon: Israel Tidak Terikat Perjanjian AS-Iran

Editor: Mukhtar Amin
trump netanyahu
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu adu argumen (Ilustrasi: AI)

PROGRES.ID – Perbedaan pandangan mengenai implementasi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mencuat bahkan sebelum nota kesepahaman (MoU) ditandatangani secara resmi. Fokus utama perdebatan kini tertuju pada status Lebanon dan masa depan operasi militer Israel di negara tersebut.

Menurut laporan Channel 14 Israel, salah satu poin yang dinilai menguntungkan Iran dalam kesepahaman yang telah dicapai adalah ketentuan penghentian tembak-menembak secara langsung dan menyeluruh. Media tersebut menyebut bahwa berdasarkan kesepahaman itu, Israel diwajibkan menghentikan seluruh operasi militernya di Lebanon segera setelah perjanjian mulai berlaku.

“Ini merupakan pencapaian yang sangat penting bagi Iran. Gencatan senjata akan berlaku seketika, yang berarti Israel harus segera menghentikan tembakan di Lebanon,” demikian laporan Channel 14.

Namun, laporan berbeda muncul dari harian Israel Maariv. Media tersebut mengabarkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahwa militer Israel tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon.

Menurut laporan itu, Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel tidak menganggap dirinya terikat pada klausul Lebanon yang terdapat dalam kesepakatan Amerika Serikat dan Iran.

Di sisi lain, Dewan Keamanan Nasional Iran menegaskan bahwa berdasarkan kesepahaman yang telah dicapai, perang di seluruh front konflik, termasuk Lebanon, akan dihentikan secara langsung dan permanen mulai malam ini.

Dalam pernyataan resminya, lembaga tersebut menyebut penghentian perang merupakan bagian dari komitmen awal yang harus dijalankan sebelum kedua pihak melangkah ke tahap berikutnya.

“Dengan berlandaskan pada kesepahaman yang telah dicapai, perang di seluruh front, termasuk Lebanon, akan berhenti secara segera dan permanen mulai malam ini,” demikian pernyataan Dewan Keamanan Nasional Iran.

Lembaga itu juga menjelaskan bahwa negosiasi menuju perjanjian final baru akan dimulai setelah pihak lawan melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagaimana tertuang dalam nota kesepahaman yang telah disepakati.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun kerangka awal kesepakatan antara Washington dan Teheran telah tercapai, sejumlah persoalan terkait implementasi di lapangan masih berpotensi menjadi sumber perbedaan pandangan. Lebanon menjadi salah satu isu yang paling sensitif, terutama menyangkut keberlanjutan operasi militer Israel dan mekanisme penghentian konflik di kawasan.

Para pengamat menilai sikap yang saling bertolak belakang mengenai klausul Lebanon dapat menjadi ujian awal bagi efektivitas kesepahaman yang disebut-sebut akan membuka jalan menuju perjanjian yang lebih komprehensif antara Amerika Serikat dan Iran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *