Pakar Keamanan AS Peringatkan “Perangkap Eskalasi” dalam Perang Iran, Risiko Perang Darat Meningkat

favicon progres.id
fasilitas energi haifa
Fasilitas energi di Kota Haifa dihantam rudal Iran (Foto: Telegram)

PROGRES.ID – Seorang pakar keamanan global dari University of Chicago memperingatkan bahwa Amerika Serikat berisiko terjebak dalam apa yang disebut sebagai “perangkap eskalasi” dalam konflik melawan Iran, sebuah situasi di mana keberhasilan militer awal justru dapat berujung pada kegagalan strategis jangka panjang.

Profesor ilmu politik sekaligus pakar keamanan internasional, Robert Pape, menjelaskan bahwa perangkap eskalasi adalah kondisi ketika aksi militer yang awalnya dianggap terkendali justru memicu konflik yang semakin luas dan sulit dihentikan.

Menurutnya, serangan udara presisi yang berhasil menghancurkan target militer dan menewaskan pemimpin musuh memang dapat dianggap sebagai keberhasilan taktis. Namun, keberhasilan militer tersebut tidak otomatis menghasilkan kemenangan strategis atau tujuan politik jangka panjang.

Ia menilai, dalam banyak kasus selama lebih dari 100 tahun sejarah perang modern, serangan udara saja tidak pernah berhasil menjatuhkan rezim suatu negara. Justru sebaliknya, serangan tersebut sering membuat rezim yang diserang menjadi lebih agresif dan mendapat dukungan lebih besar dari dalam negeri.

Selain itu, korban sipil akibat serangan udara juga dapat memicu kemarahan publik dan memperkuat sentimen anti-negara penyerang. Kondisi tersebut dinilai dapat memperpanjang konflik dan meningkatkan risiko serangan balasan.

Dalam kasus Iran, situasi semakin kompleks karena faktor geopolitik dan energi global, terutama setelah Iran disebut menguasai jalur strategis Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling penting di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.

Pape menilai, jika konflik terus meningkat, dunia bisa memasuki tahap eskalasi berikutnya, yaitu operasi militer darat terbatas. Ia menyebut persiapan pasukan seperti Marinir dan pasukan lintas udara dapat menjadi tanda bahwa konflik berpotensi memasuki fase baru yang lebih berbahaya.

Menurutnya, ketika pasukan darat mulai dikerahkan dan korban dari pihak militer mulai jatuh, tekanan politik di dalam negeri akan meningkat dan membuat perang semakin sulit dihentikan.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum serangan terjadi, sebenarnya terdapat peluang diplomasi terkait program nuklir Iran. Namun setelah konflik meningkat dan posisi Iran dianggap semakin kuat, tuntutan dalam negosiasi diperkirakan akan semakin besar dan sulit disepakati.

Pape menegaskan bahwa perbedaan antara keberhasilan taktis dan strategis harus dipahami dengan jelas. Keberhasilan menghancurkan target militer tidak selalu berarti memenangkan perang, karena hasil akhir perang ditentukan oleh kondisi politik, bukan hanya keberhasilan militer di medan tempur.

Ia memperingatkan bahwa tanpa strategi politik yang jelas setelah serangan militer, konflik dapat berubah menjadi perang panjang yang melibatkan lebih banyak negara dan berdampak besar terhadap stabilitas kawasan serta ekonomi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *