PROGRES.ID – Pendapatan harian Iran dari sektor minyak dilaporkan meningkat hingga dua kali lipat sejak akhir Februari, di tengah meningkatnya tekanan dan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Kenaikan ini disebut terjadi seiring perubahan situasi geopolitik yang turut memengaruhi pasar energi global.
Berdasarkan analisis terbaru dari The Economist, konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan membawa perubahan besar dalam peta energi dunia, terutama di kawasan Teluk.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi situasi ini adalah terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur penting bagi sekitar 15 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur tersebut dilaporkan berdampak pada penurunan pendapatan negara-negara Teluk, namun di sisi lain justru meningkatkan pemasukan Iran dari sektor energi.
Data yang dikutip menunjukkan bahwa Iran saat ini mengekspor sekitar 2,4 hingga 2,8 juta barel per hari. Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 1,5 hingga 1,8 juta barel minyak mentah, sementara sisanya merupakan kondensat.
Kenaikan harga minyak dunia akibat ketidakstabilan kawasan turut memberikan keuntungan bagi Iran. Dalam situasi pasokan global yang mengetat, harga minyak naik tajam dan Iran memanfaatkan kondisi tersebut untuk meningkatkan pendapatan dari ekspor energinya.
Analisis sektor minyak Iran menunjukkan ketahanan yang cukup kuat meskipun menghadapi konflik dan sanksi ekonomi. Iran dinilai mampu menyesuaikan strategi ekspor dan mempertahankan produksi agar tetap berjalan.
Saat ini, China disebut menjadi tujuan utama ekspor minyak Iran, dengan menyerap lebih dari 90 persen dari total ekspor. Sejumlah kilang kecil dan independen dilaporkan membeli minyak Iran dengan harga yang mendekati patokan minyak Brent.
Perubahan lain yang cukup signifikan adalah harga jual minyak Iran yang kini tidak lagi dijual dengan diskon besar seperti pada tahun-tahun sebelumnya akibat sanksi. Dalam kondisi pasar saat ini, minyak Iran justru dapat dijual dengan harga lebih tinggi karena pasokan global yang terbatas.
Pengamat menilai kondisi ini menunjukkan kemampuan Iran beradaptasi secara ekonomi di tengah tekanan militer dan ekonomi yang berat. Pendapatan minyak yang meningkat dinilai membantu Iran mengurangi dampak tekanan ekonomi selama konflik berlangsung.
Sementara itu, konflik di kawasan masih terus berlanjut dengan serangan rudal dan drone yang terjadi hampir setiap hari di berbagai titik konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk wilayah yang menjadi lokasi pangkalan militer dan instalasi strategis.












