PROGRES.ID – Dalam sebuah episode tajam program Sanchez Effect, pembawa acara Rick Sanchez menghadirkan dua suara kritis dari Amerika Serikat: mantan inspektur senjata PBB Scott Ritter dan jurnalis sekaligus host radio Garland Nixon. Diskusi mereka mengupas secara gamblang konflik Iran—bukan sekadar dari sisi militer, tetapi juga dampak geopolitik, ekonomi, hingga krisis kepercayaan global terhadap Amerika Serikat.
Perang Tanpa Strategi Jelas
Salah satu kritik utama yang muncul adalah ketiadaan strategi yang koheren. Ritter menegaskan bahwa baik Amerika Serikat maupun Israel tampak lebih mengandalkan taktik jangka pendek daripada rencana jangka panjang.
Ia bahkan mengutip pandangan dari dalam Israel sendiri, yang menyebut pendekatan militer negara tersebut sebagai “tanpa strategi”—hanya kumpulan aksi yang tidak terintegrasi. Dalam situasi seperti ini, militer hanya “memukul paku” tanpa arah jelas.
Akibatnya, keputusan-keputusan penting terlihat kontradiktif. Pemerintah AS di bawah Donald Trump disebut mengeluarkan pernyataan yang berubah-ubah: dari ancaman pengerahan pasukan darat, pembatalan serangan energi Iran, hingga klaim negosiasi yang dibantah pihak Iran.
Krisis Kepercayaan dan Disinformasi
Nixon menyoroti satu hal penting: sulit mempercayai narasi yang beredar. Bahkan kabar soal kemungkinan negosiasi Iran-AS pun berasal dari sumber Israel, bukan dari Teheran atau sekutu-sekutunya.
Ritter lebih jauh menyebut ini sebagai bagian dari operasi disinformasi untuk menciptakan tekanan internal di Iran. Namun yang terjadi justru sebaliknya: rakyat Iran yang sebelumnya kritis terhadap pemerintah kini bersatu akibat serangan eksternal.
Kelemahan Militer yang Terbuka
Diskusi ini juga mengungkap sisi lain yang jarang disorot media arus utama: masalah serius dalam kesiapan militer AS.
Kapal induk USS Gerald R. Ford yang bernilai miliaran dolar justru dilaporkan mengalami masalah teknis, mulai dari sistem toilet hingga kebakaran di dalam kapal. Moral awak pun merosot drastis.
Lebih mengejutkan lagi, sistem pertahanan seperti Patriot dan THAAD disebut tidak seefektif yang selama ini diklaim. Bahkan, ada laporan bahwa rudal Patriot justru menghantam wilayah sipil di Bahrain.
Ritter menegaskan bahwa masalah ini bukan baru—teknologi lama yang “dipoles” demi keuntungan industri pertahanan kini menunjukkan kelemahannya di medan nyata.
Keunggulan Geografis Iran
Salah satu poin paling krusial adalah keunggulan geografis Iran, terutama di Selat Hormuz. Wilayah ini merupakan jalur vital energi dunia, namun juga menjadi titik lemah bagi AS.
Ritter menjelaskan bahwa Iran telah mempersiapkan pertahanan kawasan ini selama puluhan tahun. Dengan posisi geografis dan sistem rudal yang tertanam di pegunungan, mereka mampu mengancam kapal perang tanpa harus mengandalkan angkatan laut konvensional.
Kesimpulannya tegas: kekuatan militer modern tidak selalu mampu mengatasi faktor geografis.
Perang yang Tidak Bisa Dimenangkan
Baik Ritter maupun Nixon sepakat: tidak ada solusi militer untuk konflik ini.
Untuk mengerahkan kekuatan darat yang cukup, AS membutuhkan waktu berbulan-bulan—sementara tekanan ekonomi akibat perang, terutama kenaikan harga energi, sudah mulai terasa secara global.
Ritter bahkan menyebut bahwa AS telah menguras persediaan senjata canggihnya, membuatnya rentan di konflik lain.
Dampak Global: Energi, Ekonomi, dan Hegemoni
Dampak perang tidak berhenti di medan tempur. Gangguan di kawasan Teluk memicu krisis energi global, mempengaruhi pasokan minyak, gas, bahkan pupuk.
Negara-negara mulai mempertanyakan ketergantungan mereka pada perlindungan militer AS. Nixon memperkirakan bahwa negara-negara Teluk bisa beralih ke kekuatan lain seperti Rusia atau China.
Lebih jauh, dominasi global AS—yang selama ini dianggap tak tergoyahkan—mulai tergerus. Dunia melihat bahwa kekuatan militer tidak selalu sejalan dengan efektivitas strategi.
Narasi Lama yang Terulang
Diskusi ini juga menyinggung kemiripan dengan perang Irak. Klaim ancaman besar—seperti senjata pemusnah massal—kembali digunakan untuk membenarkan intervensi.
Bagi Ritter, yang dulu mengungkap ketidakbenaran klaim tersebut, situasi ini terasa seperti pengulangan sejarah.












