Serangan Iran ke Pangkalan AS di Saudi Jadi Titik Balik, Pesawat AWACS Bernilai Tinggi Hancur

favicon progres.id
pesawat awacs as
Satu unit pesawat pengintai jenis E-3 Sentry AWACS atau radar terbang milik Amerika Serikat bernilai $700 Juta hancur diserang Iran (Foto: PressTV)

PROGRES.ID – Serangan yang dilancarkan Iran pada malam 27 Maret 2026 menjadi salah satu pukulan paling signifikan terhadap kekuatan udara Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir. Operasi yang dilakukan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) itu menargetkan Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, salah satu titik strategis militer Amerika di kawasan Teluk.

Serangan tersebut dilakukan melalui kombinasi rudal balistik dan drone yang diluncurkan secara terkoordinasi. Sistem pertahanan berlapis di pangkalan itu dilaporkan sempat menghadang sebagian serangan, namun sejumlah proyektil berhasil menembus dan menghantam area utama pangkalan.

Dampak paling menonjol dari serangan ini adalah hancurnya satu unit pesawat pengintai jenis E-3 Sentry AWACS, yang dikenal sebagai pusat komando udara bergerak milik Angkatan Udara AS atau radar bergerak. Selain itu, dua pesawat perang elektronik EC-130H dilaporkan mengalami kerusakan berat, sementara sejumlah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 juga terdampak, sehingga mengganggu kemampuan operasional militer AS di kawasan.

Para analis militer menilai serangan ini sebagai momen penting dalam dinamika konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Serangan presisi yang berhasil menjangkau aset-aset strategis menunjukkan peningkatan kemampuan militer Iran, sekaligus mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.

Pangkalan Udara Pangeran Sultan sendiri telah lama menjadi pusat operasi penting bagi militer AS di Teluk Persia. Fasilitas ini mendukung berbagai misi, mulai dari pengintaian, pengisian bahan bakar di udara, hingga operasi perang elektronik yang menunjang serangan udara di wilayah Asia Barat.

Selama konflik berlangsung, pesawat AWACS yang ditempatkan di pangkalan tersebut memainkan peran penting dalam memantau peluncuran rudal, mengoordinasikan serangan, serta menjaga kesadaran situasi di medan perang yang kompleks. Kehilangan pesawat ini dinilai sebagai kerugian besar, mengingat jumlahnya terbatas dan sulit digantikan dalam waktu singkat.

Selain itu, kerusakan pada pesawat perang elektronik turut berdampak pada kemampuan militer AS dalam melemahkan sistem pertahanan udara lawan. Tanpa dukungan tersebut, operasi udara menjadi lebih berisiko dan sulit dikoordinasikan secara efektif.

Serangan ini juga memperlihatkan strategi Iran yang tidak hanya menargetkan pesawat tempur, tetapi juga infrastruktur pendukung yang menjadi kunci dominasi udara. Dengan menghantam aset saat berada di darat, peluang keberhasilan serangan dinilai lebih tinggi dibandingkan saat pesawat berada di udara.

kondisi pesawat tanker
Petugas di pangkalan Prince Sultan, Arab Saudi melakukan penyelidikan (Foto: PressTV)

Dalam pelaksanaannya, serangan dimulai dengan peluncuran sejumlah rudal balistik dan puluhan drone yang dirancang untuk membebani sistem pertahanan lawan. Kombinasi ancaman cepat dan lambat membuat sistem pertahanan harus memilih prioritas, sehingga membuka celah bagi sebagian serangan untuk lolos.

Akibat serangan tersebut, sejumlah pesawat mengalami kerusakan berat dan kebakaran yang berlangsung selama beberapa jam sebelum berhasil dikendalikan. Gambar yang beredar menunjukkan puing-puing pesawat dengan kerusakan signifikan di area pangkalan.

Kerugian ini diperkirakan berdampak pada keberlanjutan operasi udara AS di kawasan. Berkurangnya pesawat pengisian bahan bakar, misalnya, dapat membatasi jangkauan dan durasi misi udara, sehingga memaksa perubahan strategi operasional.

Seiring konflik memasuki pekan kelima, kehilangan sejumlah aset bernilai tinggi tersebut mendorong militer AS untuk mengevaluasi kembali strategi dan sistem pertahanan pangkalan di kawasan Teluk Persia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *