PROGRES.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) meluncurkan gelombang terbaru serangan rudal yang diklaim memiliki akurasi tinggi terhadap target militer Israel dan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resminya, IRGC mengungkapkan bahwa serangan yang terjadi pada Senin malam tersebut merupakan bagian dari gelombang ke-57 dalam operasi balasan yang diberi nama Operation True Promise 4.
Infrastruktur Militer Israel Jadi Sasaran Utama
IRGC menyebutkan bahwa serangan difokuskan pada berbagai fasilitas strategis di wilayah yang diduduki Israel, termasuk sistem komando, kendali, dan komunikasi militer.
Tak hanya itu, sistem pertahanan rudal Israel juga menjadi target utama dalam serangan tersebut. IRGC mengklaim menggunakan rudal presisi tinggi seperti Khaybar Shekan, serta rudal balistik Emad dan Qadr untuk menghantam sasaran dengan tingkat ketepatan yang tinggi.
Pangkalan Militer AS di Teluk Ikut Diserang
Selain menyerang Israel, IRGC juga menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Salah satu target utama adalah Pangkalan Udara Al-Udeid yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS.
Dalam operasi ini, IRGC mengerahkan rudal jarak menengah Zolfaghar—yang dikenal memiliki sistem bahan bakar ganda—serta rudal Qiam. Serangan juga diperkuat dengan penggunaan drone bunuh diri cerdas yang diarahkan langsung ke target militer.
Eskalasi Konflik Kian Tajam
Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian balasan Iran atas operasi militer besar yang sebelumnya dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Serangan gabungan kedua negara tersebut terjadi setelah terbunuhnya pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer dan warga sipil pada akhir Februari.
Operasi militer itu dilaporkan melibatkan serangan udara intensif ke berbagai lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan sipil, yang mengakibatkan kerusakan besar serta korban jiwa.
Iran Terus Luncurkan Serangan Balasan
Sebagai respons, Iran terus menggencarkan operasi balasan dengan meluncurkan gelombang demi gelombang serangan rudal dan drone ke berbagai target strategis milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Dengan berlanjutnya serangan hingga gelombang ke-57, konflik ini menunjukkan eskalasi yang semakin serius dan berpotensi memperluas dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.












