Stok Senjata Menipis, AS Dinilai Sulit Bertahan dalam Perang Jangka Panjang

favicon progres.id
tentara amerika serikat
Tentara Amerika Serikat (Foto: Istimewa)

PROGRES.ID – Sebuah lembaga pemikir terkemuka di Amerika Serikat memperingatkan bahwa persediaan senjata Amerika terus menipis di tengah konflik yang berlangsung dengan Iran, sehingga memunculkan kekhawatiran tentang kemampuan Washington untuk mempertahankan perang berintensitas tinggi dalam jangka panjang.

Dalam analisis terbaru yang dirilis oleh American Enterprise Institute, para ahli menyebut bahwa operasi serangan udara yang terus berlangsung telah memberikan tekanan besar terhadap cadangan amunisi militer Amerika.

Dua analis pertahanan, John G. Ferrari dan Dillon Prochnicki, menyatakan bahwa Amerika Serikat kemungkinan tidak siap untuk mempertahankan perang berkepanjangan melawan negara dengan kekuatan militer seimbang.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa stok senjata AS sebenarnya sudah berada di bawah tekanan sejak beberapa tahun terakhir akibat operasi militer yang terus berlangsung, sementara produksi industri pertahanan belum mampu sepenuhnya menggantikan persediaan yang terpakai.

Para analis juga menilai negara pesaing global seperti China dan Rusia sedang memantau dengan cermat kapasitas produksi, tingkat penggunaan senjata, serta keputusan politik Amerika untuk menilai daya tahan militer negara tersebut dalam konflik jangka panjang.

Menurut laporan itu, masalah utama bukan lagi kemampuan menyerang target, tetapi apakah Amerika Serikat mampu mempertahankan intensitas serangan dalam waktu lama. Ketergantungan pada senjata berteknologi tinggi yang jumlahnya terbatas dan berbiaya sangat mahal dinilai menjadi tantangan utama dalam perang berkepanjangan.

Dari sisi anggaran, para analis menyebut paket anggaran sekitar 450 miliar dolar AS yang sedang dibahas di Kongres sebagai kebutuhan strategis untuk mengisi kembali stok senjata yang menipis serta mempersiapkan kemungkinan konflik jangka panjang di masa depan.

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sendiri kembali meningkat sejak akhir Februari, dengan serangan udara dan serangan balasan menggunakan rudal serta drone yang terus terjadi di berbagai wilayah di kawasan Timur Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *