PROGRES.ID, ZURICH — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan komitmennya untuk menghormati para korban yang tewas dalam serangan yang disebut Teheran sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel, saat tiba di Swiss untuk membahas implementasi nota kesepahaman (MoU) yang dimediasi Pakistan.
Pernyataan itu disampaikan Qalibaf melalui unggahan di platform X pada Sabtu, sesaat setelah mendarat di Zurich. Kunjungan tersebut bertujuan menindaklanjuti komitmen yang tercantum dalam kesepahaman yang baru-baru ini ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat.
“Saya menganggap anak-anak tak berdosa di Minab dan seluruh syuhada Iran sebagai saksi atas tindakan dan perilaku saya,” tulis Qalibaf.
Ia merujuk pada Kota Minab di Iran selatan, yang menurut pemerintah Iran menjadi lokasi tewasnya 168 orang, termasuk anak-anak sekolah, dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
“Mereka melihat kami dan memiliki harapan kepada kami. Insya Allah saya tidak akan merasa malu di hadapan para syuhada dan rakyat Iran,” tambahnya.
Unggahan tersebut juga menampilkan foto Qalibaf saat turun dari pesawat bersama delegasi yang diberi nama “Minab 168” sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.
Delegasi Iran dalam kunjungan itu turut diikuti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Mereka dijadwalkan menggelar pembahasan terkait mekanisme pelaksanaan kewajiban yang telah disepakati dalam memorandum tersebut.
Menjelang keberangkatan delegasi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa kunjungan ke Swiss bukanlah awal dari putaran baru perundingan menuju kesepakatan final.
“Perjalanan ini pada dasarnya bertujuan menuntut pemenuhan komitmen dari pihak lain,” kata Baghaei.
Menurutnya, setiap kesepahaman atau perjanjian pada akhirnya akan diuji melalui tahap implementasi. Ia menambahkan bahwa pembahasan mengenai kesepakatan akhir belum dapat dimulai sebelum sejumlah poin penting dalam memorandum mulai dijalankan.
“Saat ini kami belum melihat kondisi tersebut,” ujarnya.
Baghaei juga menyoroti berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon yang dinilai bertentangan dengan klausul pertama memorandum, yakni penghentian agresi di seluruh front, termasuk di wilayah Lebanon.
Sementara itu, pada hari yang sama, komando militer pusat Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas maritim. Teheran menyatakan langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran memorandum oleh Amerika Serikat dan Israel.












