Tersiksa di Medan Perang Gaza, Tentara Israel Akui Alami Tekanan Mental Berat dan Kehilangan Arah Perang

favicon progres.id
tentara zionis israel
Tentara Israel (Foto: Haaretz.com)

PROGRES.ID – Di balik propaganda kemenangan dan semangat juang tinggi yang gencar disuarakan media Israel, kenyataan pahit justru diungkap oleh para prajurit yang bertugas di garis depan Gaza. Laporan terbaru dari surat kabar Haaretz membuka tabir kelam tentang penderitaan mental dan psikologis yang dialami tentara Israel selama agresi militer di Gaza.

Pengakuan Mengguncang dari Prajurit di Medan Perang

Sejumlah prajurit dari berbagai unit tempur angkat bicara, membeberkan bagaimana perang ini bukan hanya merenggut nyawa rekan mereka, tetapi juga menghancurkan ketahanan mental para tentara yang bertugas.

Yonatan, prajurit dari Brigade Kfir, harus menghadapi kenyataan kehilangan sahabatnya dalam serangan bom di Jabalia. Trauma itu membuatnya meninggalkan pos penjagaan, hingga akhirnya ia dijatuhi hukuman penjara 28 hari oleh militer Israel sendiri.

Omer dari Brigade Givati mengaku bahwa korban tewas dari unitnya, sekolahnya, dan lingkungan asalnya tak terhitung jumlahnya. Ia juga menuding kelalaian perwira menjadi penyebab kematian beberapa rekannya.

Yair dari Unit Nahal menggambarkan betapa parahnya stres yang dialaminya. Ia menceritakan bahwa para perwira kerap tertidur saat menjalankan tugas penyergapan, sementara dirinya sampai pingsan karena tekanan mental yang terus menghantuinya, bahkan ketika sudah kembali ke rumah.

Uri dari Unit elit Yahalom menilai bahwa perang ini sama sekali tidak memiliki tujuan yang jelas. Ia menyebut operasi militer yang dilakukan secara berulang di wilayah yang sama sebagai bentuk kesia-siaan politik tanpa arah.

Fakta di Lapangan Berbanding Terbalik dengan Media

Semua prajurit tersebut sepakat bahwa wawancara media yang menampilkan tentara Israel penuh semangat hanyalah rekayasa yang telah diatur oleh komando militer. Mereka menegaskan bahwa kenyataan di medan tempur jauh lebih kelam dan menakutkan.

Haaretz menegaskan bahwa realitas perang di Gaza jauh dari gambaran heroik yang dipublikasikan media Ibrani. Di lapangan, tentara-tentara Israel hidup dalam kondisi kacau, kelelahan ekstrem, dan dihantui ketakutan akan kematian setiap saat.

Gambaran Kekacauan Mental dan Moril yang Runtuh

Keterangan dari para tentara ini menyingkap sisi gelap yang selama ini ditutupi pemerintah dan media Israel. Perang yang dipaksakan tanpa tujuan yang jelas telah menciptakan kekacauan mental, menurunkan moril prajurit, dan memperlihatkan betapa buruknya perencanaan militer di lapangan.

Sementara media terus menyiarkan keberhasilan militer Israel, kenyataan di balik layar adalah keputusasaan, kegagalan taktis, dan trauma mendalam yang membekas pada para prajurit yang dipaksa menjalani operasi militer tanpa akhir yang jelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *