PROGRES.ID, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan penting mengenai program nuklir Iran. Kali ini, Trump mengatakan bahwa Iran “hampir sepenuhnya meninggalkan” rencana untuk memiliki senjata nuklir, sebuah pernyataan yang menarik perhatian karena isu nuklir selama ini menjadi salah satu alasan utama Washington menekan Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, ketika ia meninggalkan Gedung Putih untuk menghadiri kampanye di Ohio.
“Iran, seperti yang Anda tahu, hampir sepenuhnya telah meninggalkan rencana senjata nuklir,” kata Trump, sebagaimana dikutip Anadolu Agency dalam laporan 4 Oktober 2026.
Pernyataan itu menjadi sorotan karena sebelumnya Trump berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Bukan Sekadar Pernyataan Baru
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada September lalu, Trump juga menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Ia bahkan mengklaim operasi militer Amerika Serikat telah menghancurkan fasilitas program nuklir Iran.
Pada kesempatan lain, Trump kembali menegaskan bahwa salah satu tujuan utama kebijakan militernya terhadap Iran adalah memastikan Teheran tidak memperoleh senjata nuklir.
Namun, pernyataan terbaru Trump memiliki nuansa berbeda. Kali ini, ia tidak sekadar mengatakan bahwa Iran tidak boleh mempunyai senjata nuklir, tetapi menyebut Tehran telah “hampir menyerah” terhadap rencana untuk mengembangkan senjata tersebut.
Iran Selama Ini Membantah Ingin Membuat Bom Nuklir
Iran sendiri selama bertahun-tahun membantah tuduhan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk menghasilkan senjata.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menyampaikan posisi tersebut ketika menghadiri Sidang Umum PBB bulan lalu. Ia mengatakan Tehran tidak mengejar senjata nuklir dan menawarkan pengenceran persediaan uranium yang diperkaya dengan mekanisme verifikasi internasional.
Meski demikian, Iran tetap mempertahankan hak untuk menjalankan program nuklir sipil dan menolak sejumlah tuntutan struktural selama sanksi ekonomi Amerika Serikat masih diberlakukan.
Klaim Trump Masih Menyisakan Perdebatan
Meski Trump menyebut Iran telah meninggalkan rencana memperoleh senjata nuklir, persoalan kemampuan nuklir Iran belum otomatis selesai.
Laporan PBS sebelumnya mencatat bahwa Iran kemungkinan masih memiliki material dan peralatan yang berkaitan dengan program nuklirnya. Hal ini membuat klaim mengenai “denuklirisasi” Iran masih menjadi persoalan yang diperdebatkan.
Dengan demikian, pernyataan terbaru Trump lebih tepat dipahami sebagai klaim mengenai arah kebijakan dan ambisi nuklir Iran, bukan bukti bahwa seluruh kemampuan atau material nuklir Iran telah hilang.
Perubahan Pernyataan di Tengah Konflik yang Belum Usai
Pernyataan tersebut muncul ketika konflik Amerika Serikat dan Iran memasuki bulan-bulan yang panjang dan tekanan diplomatik terus berlangsung.
CBS News melaporkan bahwa Trump masih membuka kemungkinan dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat apabila tidak tercapai kesepakatan yang dianggap memadai Washington. Pada saat yang sama, upaya diplomatik melalui mediator juga terus berjalan.
Sementara itu, Reuters melaporkan pada akhir September bahwa Trump membantah telah menawarkan keringanan sanksi atau akses terhadap dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas konsesi nuklir dari Teheran.
Situasi tersebut membuat pernyataan terbaru Trump tentang Iran menjadi penting. Jika sebelumnya isu utamanya adalah bagaimana mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, kini Trump mengatakan Iran “hampir” telah meninggalkan rencana tersebut.
Meski begitu, apakah pernyataan tersebut akan berkembang menjadi kesepakatan nuklir baru antara Washington dan Tehran masih bergantung pada proses diplomasi berikutnya.

Komentar