PROGRES.ID – Petenis putri Filipina, Alexandra Eala, kembali melanjutkan perjuangannya di tur tenis profesional dengan tampil pada Wuhan Open 2026 di China. Turnamen level WTA 1000 tersebut menjadi kesempatan penting bagi Eala untuk membangun kembali momentumnya setelah meraih medali perunggu pada Asian Games 2026.

Eala dijadwalkan menghadapi petenis tuan rumah, Han Shi, pada babak pertama atau 64 besar Wuhan Open, Senin (12/10/2026). Berdasarkan laporan GMA News, pertandingan tersebut menjadi awal perjalanan Eala dalam upayanya meraih gelar pertamanya di level WTA 1000. Hingga informasi pertandingan yang tersedia, hasil akhir duel tersebut belum dapat dipastikan.

Han Shi bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Meski memiliki peringkat lebih rendah, petenis China itu berhasil melewati babak kualifikasi setelah mengalahkan Peyton Stearns dari Amerika Serikat dan Kamilla Rakhimova dari Uzbekistan.

Di atas kertas, Eala lebih diunggulkan. Dalam laporan GMA News pada 12 Oktober, Eala menempati peringkat ke-19 dunia, sedangkan Han berada di posisi ke-217. Namun, keuntungan peringkat tersebut belum menjamin kemenangan, terlebih Han akan bermain di hadapan pendukungnya sendiri.

Pemenang pertandingan ini akan menghadapi petenis Kanada, Leylah Fernandez, pada babak berikutnya.

Bangkit setelah gagal meraih emas Asian Games

Partisipasi Eala di Wuhan Open berlangsung setelah ia menjalani persaingan ketat pada Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.

Petenis berusia 21 tahun tersebut harus puas membawa pulang medali perunggu dari nomor tunggal putri. Langkahnya terhenti di semifinal setelah kalah dari wakil China, Wang Xiyu, dengan skor 6-3, 3-6, 2-6.

Kekalahan itu mengakhiri harapan Eala untuk mempersembahkan medali emas bagi Filipina. Meski demikian, pencapaiannya tetap penting karena ia kembali menunjukkan kemampuan bersaing di tingkat internasional.

Sebelum tersingkir, Eala memperlihatkan performa meyakinkan dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya. Ia bahkan menang telak 6-1, 6-0 atas Patcharin Cheapchandej dari Thailand pada pertandingan pembuka Asian Games.

Laporan Reuters mengenai debut Eala di Asian Games juga menyoroti besarnya perhatian publik Filipina terhadap sang petenis. Kehadirannya menjadi salah satu daya tarik utama kompetisi tenis dalam pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.

Tak mendapat hukuman dari WTA

Selain persoalan di lapangan, keputusan Eala melewatkan China Open untuk membela negaranya di Asian Games sempat menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan sanksi dari Women’s Tennis Association (WTA).

China Open merupakan turnamen WTA 1000 yang termasuk dalam kalender kompetisi penting bagi pemain papan atas. Karena jadwalnya berbenturan dengan Asian Games, Eala memilih memperkuat Filipina ketimbang mengikuti turnamen di Beijing.

Keputusan itu memunculkan kekhawatiran mengenai potensi penalti berdasarkan ketentuan keikutsertaan dalam turnamen wajib.

Namun, Philippine Tennis Association (PHILTA) kemudian menyampaikan kabar positif. Dalam laporan GMA News pada 8 Oktober, direktur eksekutif PHILTA, Tonette Mendoza, mengatakan Eala tidak dikenai hukuman oleh WTA atas keputusannya tersebut.

Mendoza menjelaskan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan WTA untuk meminta pertimbangan atas keputusan Eala mewakili Filipina. WTA meminta penjelasan mengenai apakah keputusan tersebut diambil secara sukarela serta berkaitan dengan kepentingan negara dalam kualifikasi Olimpiade.

Tidak adanya hukuman menjadi kabar melegakan bagi Eala. Ia kini dapat melanjutkan kalender turnamennya tanpa harus menghadapi kekhawatiran mengenai sanksi yang sebelumnya menjadi sorotan.

Modal besar dari gelar bersejarah di Washington

Eala datang ke Wuhan dengan bekal pencapaian yang membuat namanya semakin diperhitungkan di tenis dunia.

Pada Agustus 2026, ia mencatat sejarah dengan menjuarai Mubadala DC Open di Washington, Amerika Serikat. Dalam partai final, Eala menaklukkan petenis unggulan pertama Jessica Pegula dengan skor 4-6, 6-4, 6-0.

Kemenangan itu menjadikannya petenis Filipina pertama yang menjuarai nomor tunggal pada turnamen level WTA Tour. Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan kemampuannya bangkit ketika menghadapi pemain elite.

Menurut laporan resmi WTA, Eala sempat tertinggal sebelum membalikkan keadaan dan memenangi sembilan gim terakhir secara beruntun dalam pertandingan final yang sempat tertunda akibat hujan.

Pencapaian tersebut kemudian mengantarkannya menembus 20 besar peringkat dunia. Pada akhir September, WTA juga mengumumkan bahwa Eala terpilih sebagai Star of the Hard-Court Swing melalui pemungutan suara penggemar, dengan perolehan 78 persen suara.

Penghargaan itu memperlihatkan bahwa pengaruh Eala tidak hanya bertambah di arena pertandingan, tetapi juga di mata penggemar tenis internasional.

Wuhan Open menjadi ujian berikutnya

Wuhan Open merupakan salah satu kesempatan penting bagi Eala untuk menguji konsistensinya menghadapi pemain-pemain papan atas. Sebagai turnamen WTA 1000, kompetisi ini menawarkan persaingan ketat sekaligus peluang mengumpulkan poin peringkat dalam jumlah besar.

Tantangan pertamanya adalah Han Shi. Jika mampu melewati petenis tuan rumah tersebut, Eala berpotensi bertemu Leylah Fernandez, lawan yang sudah dikenalnya dari persaingan di tur profesional.

Selain nomor tunggal, Eala juga dijadwalkan tampil pada nomor ganda putri bersama petenis Turki, Zeynep Sonmez. Mereka akan menghadapi pasangan Anhelina Kalinina dan Dayana Yastremska pada Selasa (13/10/2026).

Jadwal ganda tersebut memberi Eala kesempatan menambah jam bertanding di tengah padatnya kalender tenis internasional.

Dengan gelar WTA pertamanya sudah berada dalam genggaman, Eala kini menghadapi tantangan berbeda: menjaga konsistensi dan membuktikan bahwa keberhasilannya bukan sekadar kejutan sesaat.

Hasil di Wuhan akan menjadi salah satu tolok ukur untuk melihat sejauh mana petenis muda Filipina itu mampu mempertahankan posisinya di antara pemain-pemain terbaik dunia.

Profil singkat Alexandra Eala

Alexandra Maniego Eala merupakan petenis profesional asal Filipina yang lahir pada 23 Mei 2005 di Quezon City. Ia dikenal sebagai salah satu pemain paling menonjol dari Asia Tenggara dalam perkembangan tenis putri modern.

Eala mulai menarik perhatian internasional ketika menjuarai nomor tunggal putri junior US Open 2022. Gelar tersebut menjadi pencapaian bersejarah dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu talenta muda yang patut diperhitungkan.

Ia kemudian melanjutkan karier ke level profesional dan berhasil menembus jajaran elite tenis putri. Pada 2026, kemenangan di Washington menjadi tonggak terpenting dalam kariernya sejauh ini karena menjadikannya juara tunggal WTA Tour pertama dari Filipina.

Dengan usia yang masih muda, Eala memiliki kesempatan untuk terus meningkatkan permainan dan mengejar prestasi yang lebih tinggi. Perjalanannya di Wuhan Open kini menjadi salah satu sorotan berikutnya dalam upaya mempertahankan momentum tersebut.