PROGRES.ID – Mantan gelandang Timnas Belgia, Radja Nainggolan, kembali mengungkapkan penyesalan karena tidak memilih memperkuat Timnas Indonesia dalam perjalanan karier internasionalnya. Pemain yang pernah memperkuat AS Roma dan Inter Milan itu mengaku akan mempertimbangkan pilihan berbeda jika sejak awal mengetahui bagaimana kariernya bersama Belgia berakhir.
Pengakuan tersebut kembali menjadi sorotan setelah Nainggolan berbicara kepada media Belgia, Het Nieuwsblad. Dalam wawancara itu, ia tidak hanya menyinggung perjalanan internasionalnya yang relatif singkat, tetapi juga besarnya dukungan suporter Indonesia serta penghargaan yang diterima para pemain yang membela skuad Garuda.
Menurut Nainggolan, pengalaman tersebut membuatnya melihat peluang membela Indonesia dari sudut pandang berbeda. Ia bahkan membayangkan bisa menjalani karier internasional hingga 15 tahun apabila dahulu memilih negara asal ayahnya tersebut.
Karier Bersama Belgia Berakhir Lebih Cepat dari Harapan
Nainggolan bukan pemain yang kekurangan kualitas ketika masih berada di puncak kariernya. Ia pernah menjadi bagian dari generasi emas sepak bola Belgia dan tampil di level tertinggi kompetisi Eropa bersama sejumlah klub besar.
Namun, perjalanan internasionalnya tidak berlangsung sepanjang yang ia harapkan. Nainggolan mencatatkan 30 penampilan bersama Timnas Belgia dan mencetak enam gol. Kesempatan terakhirnya bersama tim nasional datang pada 2018, ketika hubungannya dengan pelatih Roberto Martinez berujung pada keputusan untuk tidak membawanya ke Piala Dunia di Rusia.
Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan Nainggolan bersama Belgia. Ia merasa pengorbanan yang telah dilakukan demi membela negaranya tidak berakhir sebagaimana yang dibayangkan.
Dalam wawancara yang dikutip VoetbalPrimeur, Nainggolan mengungkapkan bahwa keputusan tersebut sangat sulit diterimanya. Ia merasa telah mencurahkan banyak hal demi kesempatan bermain untuk Belgia.
Pemain yang dikenal dengan julukan Il Ninja itu juga menolak anggapan bahwa dirinya sengaja tidak dipilih karena berpotensi menimbulkan masalah di bangku cadangan. Kekecewaan tersebut pada akhirnya ikut memengaruhi cara pandangnya terhadap pilihan membela tim nasional.
Mengapa Indonesia Kini Terlihat Lebih Menarik?
Penyesalan Nainggolan bukan semata-mata berkaitan dengan jumlah penampilan internasional. Ia juga melihat bagaimana sepak bola Indonesia berkembang dan bagaimana para pemain yang membela Timnas Indonesia mendapatkan perhatian besar dari masyarakat.
Dalam wawancara dengan Het Nieuwsblad, Nainggolan menyoroti antusiasme suporter Indonesia. Ia menggambarkan bagaimana pertandingan melawan tim seperti Vietnam atau Irak bisa menarik puluhan ribu penonton yang memberikan dukungan penuh kepada skuad Garuda.
Besarnya perhatian tersebut, menurut Nainggolan, juga menghadirkan peluang bagi pemain untuk membangun popularitas di luar lapangan. Ia menyinggung dukungan sponsor terhadap sejumlah pemain tim nasional, termasuk merek-merek mewah seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex.
Nainggolan membandingkan kondisi tersebut dengan situasi pemain yang berkarier di Belgia. Ia mencontohkan Ivar Jenner yang bermain bersama Jong Utrecht, tim muda dari klub Belanda FC Utrecht, meskipun berstatus pemain internasional Indonesia.
Pandangannya memperlihatkan bahwa nilai sebuah karier internasional tidak selalu diukur dari kompetisi yang diikuti atau jumlah pertandingan yang dimainkan. Pengakuan publik, kedekatan dengan suporter, dan peluang setelah pensiun juga menjadi pertimbangan yang kini ia perhatikan.
Pengalaman di Indonesia Mengubah Pandangannya
Hubungan Nainggolan dengan Indonesia bukan sekadar ikatan keturunan. Pada penghujung 2023, ia bergabung dengan Bhayangkara FC untuk tampil di kompetisi sepak bola Indonesia.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan merasakan langsung atmosfer sepak bola Tanah Air. Ia melihat bagaimana masyarakat menyambut pemain yang memiliki hubungan dengan Indonesia, terutama mereka yang mempunyai pengalaman bermain di kompetisi Eropa.
Dalam wawancara sebelumnya, Nainggolan mengungkapkan bahwa rasa hormat dan apresiasi yang diterimanya di Indonesia terasa berbeda dibandingkan pengalaman di lingkungan sepak bola Belgia.
Pengalaman itulah yang tampaknya membuat kemungkinan membela Timnas Indonesia terasa lebih berarti dalam refleksi kariernya sekarang. Ia tidak lagi sekadar membayangkan Indonesia sebagai negara asal ayahnya, tetapi juga sebagai tempat yang memberikan sambutan hangat dan peluang untuk memperoleh pengakuan luas.
Nainggolan pun pernah menyatakan bahwa jika dapat mengulang keputusan tersebut, ia akan lebih memilih Indonesia. Pernyataan serupa telah muncul dalam wawancara yang dipublikasikan VoetbalPrimeur pada 2025, sebelum kembali menjadi perhatian setelah pengakuannya pada 2026.
Penyesalan yang Tak Bisa Mengubah Sejarah
Meski mengaku menyesal, Nainggolan tentu tidak dapat begitu saja mengubah perjalanan internasionalnya. Setelah tampil untuk Belgia di level senior, ia tidak bisa beralih dan membela Timnas Indonesia dalam pertandingan internasional resmi.
Karena itu, pernyataannya lebih tepat dipahami sebagai refleksi atas keputusan masa lalu, bukan pengumuman bahwa dirinya akan bergabung dengan skuad Garuda.
Pada usia 38 tahun, Nainggolan kini melihat perjalanan kariernya dengan perspektif berbeda. Ia mulai mempertimbangkan bukan hanya pencapaian ketika masih aktif bermain, tetapi juga bagaimana status sebagai pemain tim nasional dapat memberikan dampak terhadap kehidupan setelah gantung sepatu.
Bayangan tentang 15 tahun membela Indonesia menjadi simbol dari kesempatan yang menurutnya mungkin terlewatkan. Kesempatan itu bukan hanya berkaitan dengan sepak bola, melainkan juga pengalaman menjadi bagian dari tim nasional yang memperoleh dukungan luar biasa dari masyarakat.
Pada akhirnya, kisah Nainggolan memperlihatkan bahwa keputusan besar dalam sepak bola terkadang baru dinilai secara berbeda setelah waktu berlalu. Belgia pernah menjadi pilihannya dan memberinya kesempatan tampil di panggung internasional. Namun, pengalaman bersama Indonesia membuatnya menyadari bahwa ada sisi lain dari sebuah karier yang dahulu mungkin tidak cukup ia pertimbangkan.
Penyesalan tersebut tidak menghapus pencapaiannya bersama Belgia. Akan tetapi, pengakuannya memberikan gambaran tentang bagaimana penghargaan suporter, identitas keluarga, dan prospek masa depan dapat mengubah cara seorang pemain memandang keputusan yang pernah dibuatnya.

Komentar