Analisis John Mearsheimer: Genosida di Gaza, Strategi Israel, dan Kegagalan Barat Menghentikan Konflik

favicon progres.id
gaza
Kota Gaza Palestina saat digempur zionis Israel (Foto: Istimewa)

PROGRES.ID – Konflik di Gaza kembali menjadi sorotan dunia internasional. Dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube Global Flashpoint, Profesor John Mearsheimer — seorang pakar hubungan internasional dari University of Chicago — menyampaikan pandangan tajam tentang kebijakan luar negeri Amerika Serikat, Israel, dan dampaknya terhadap stabilitas Timur Tengah. Menurutnya, baik pemerintahan Joe Biden maupun Donald Trump telah gagal menghentikan kekerasan, bahkan justru memperpanjang perang yang menelan banyak korban sipil.

Hubungan AS–Israel: “Albatros Strategis dan Moral”

Mearsheimer menyebut hubungan erat Amerika Serikat dan Israel sebagai “albatros strategis dan moral” — sebuah beban besar yang sulit dilepaskan akibat kuatnya pengaruh lobi Israel di Washington. Menurutnya, lobi ini membuat kebijakan AS di Timur Tengah kerap tidak rasional dari sisi kepentingan nasional, namun tetap dijalankan demi menjaga dukungan politik domestik.
Padahal, dukungan buta terhadap Israel dinilai justru merusak reputasi internasional Amerika dan memperburuk stabilitas kawasan.

Genosida di Gaza: Rasional bagi Israel, Tidak Bermoral bagi Dunia

Dalam pandangan Mearsheimer, kebijakan Israel di Gaza memenuhi definisi genosida: pengeboman besar-besaran, blokade, dan penghancuran infrastruktur yang menargetkan warga sipil. Ia menegaskan bahwa tindakan ini sangat tidak bermoral, namun dapat dianggap rasional secara strategis dari sudut pandang Israel yang ingin memperluas wilayah dan mengamankan dominasinya di kawasan.
Paradoks inilah yang menurutnya menjadi inti masalah: rasionalitas strategi tidak selalu sejalan dengan moralitas kemanusiaan.

Paralel Mengkhawatirkan dengan Rezim Nazi

Salah satu pernyataan paling kontroversial Mearsheimer adalah perbandingan kebijakan Israel saat ini dengan rezim Nazi Jerman. Ia menilai ada kesamaan pola, mulai dari retorika kebencian, dehumanisasi terhadap lawan, hingga metode pembunuhan massal. Menurutnya, sejarah kelam Holocaust seharusnya menjadi peringatan, bukan justru dijadikan pembenaran untuk melakukan kekejaman serupa terhadap rakyat Palestina.

Konflik dengan Iran dan Strategi Memecah Kawasan

Israel dinilai menjalankan strategi ekspansionis dengan memperlemah negara-negara tetangganya, seperti Lebanon, Suriah, dan Iran. Namun, Mearsheimer memperingatkan bahwa langkah ini adalah pedang bermata dua. Jika Iran mengembangkan senjata nuklir atau jika negara-negara tetangga bangkit melawan, keamanan Israel bisa runtuh dalam waktu singkat.

Kegagalan Barat dan Pentingnya Tekanan Internasional

Mearsheimer mengkritik keras kurangnya respon efektif dari negara-negara Barat yang justru membiarkan kekerasan terus berlangsung. Ia menegaskan bahwa solusi militer tidak akan pernah menyelesaikan konflik Gaza, dan hanya melalui tekanan diplomatik global, peluang perdamaian yang adil dapat tercapai.

Dilema Masa Depan Israel dan Amerika

Jika kebijakan agresif Israel terus berlanjut, Mearsheimer memprediksi masa depan yang suram: isolasi internasional, krisis internal, dan ancaman eksistensial dari negara-negara tetangga. Bagi Amerika Serikat, dukungan tanpa syarat terhadap Israel akan terus menggerogoti kredibilitasnya sebagai negara yang menjunjung nilai demokrasi dan hak asasi manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *