PROGRES.ID – Perang antara Iran melawan koalisi United States dan Israel disebut mulai menimbulkan tekanan besar bagi militer Amerika Serikat. Sejumlah laporan terbaru menyebut stok senjata penting Washington mulai menipis, sementara serangan balasan Iran terus meningkat.
Informasi tersebut disampaikan jurnalis India Rifat Jawaid dalam analisis videonya di kanal YouTube Janta Ka Reporter, yang menyoroti perkembangan terbaru konflik yang telah memasuki hari ketujuh.
Pentagon Minta Tambahan Anggaran Militer 50 Miliar Dolar
Menurut laporan yang dibahas dalam video tersebut, Pentagon kini meminta tambahan anggaran militer sekitar 50 miliar dolar AS kepada Kongres.
Permintaan ini muncul karena tingginya penggunaan berbagai sistem persenjataan dalam operasi militer melawan Iran, termasuk rudal Tomahawk cruise missile, sistem pertahanan THAAD missile defense system, serta rudal pencegat Patriot missile system.
Sejumlah laporan media juga menyebut biaya perang yang harus ditanggung Amerika Serikat mencapai sekitar 1 miliar dolar AS per hari.
Jika konflik berlangsung lebih lama, tekanan terhadap ekonomi Amerika disebut berpotensi meningkat tajam, terutama karena konsumsi amunisi dan biaya operasi militer yang sangat besar.
Serangan Rudal Iran Hantam Bandara Ben Gurion
Dalam perkembangan lain, Iran diklaim melancarkan serangan rudal besar ke Ben-Gurion Airport di dekat Tel Aviv.
Serangan tersebut dilaporkan menggunakan rudal balistik Khorramshahr‑4 missile, yang dikenal memiliki kemampuan membawa beberapa hulu ledak.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kobaran api di area bandara setelah serangan tersebut. Beberapa penerbangan dilaporkan harus dialihkan karena situasi keamanan.
Militer Iran juga mengklaim bahwa rudal mereka menghantam area parkir pesawat tempur, termasuk jet F‑35 Lightning II, meskipun klaim ini belum dikonfirmasi secara independen.
Pakar AS: Konflik Bisa Jadi Perang Berkepanjangan
Sejumlah analis keamanan Amerika memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi berubah menjadi perang regional yang lebih luas.
Salah satunya adalah mantan pejabat keamanan nasional AS Brett McGurk, yang menilai Iran memiliki strategi bertahan jangka panjang.
Menurutnya, Iran tidak berada dalam tekanan waktu seperti Amerika Serikat yang harus mengoperasikan pasukan jauh dari wilayahnya sendiri.
“Iran bisa memperlambat tempo konflik dan memilih target secara strategis,” ujar McGurk dalam wawancara yang dikutip dalam video tersebut.
Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Ekonomi Global

Ketegangan juga meningkat setelah Iran memperketat kontrol terhadap jalur pelayaran di Strait of Hormuz, salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Pengetatan ini mulai berdampak pada perdagangan internasional, dengan puluhan kapal dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia dan Laut Merah.
Jika situasi ini berlanjut, harga minyak dan gas global berpotensi melonjak, yang dapat memicu tekanan inflasi di banyak negara.
Laporan CNN dari Teheran Bantah Situasi Panik
Di tengah berbagai spekulasi mengenai kondisi dalam negeri Iran, seorang reporter dari CNN yang berada di Teheran melaporkan bahwa aktivitas masyarakat masih berjalan relatif normal.
Dalam laporannya, ia menyebut toko-toko tetap buka, pasokan makanan tersedia, dan tidak terlihat antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar.
Laporan ini berbeda dengan sejumlah narasi yang sebelumnya menggambarkan situasi bahwa Iran berada dalam kondisi kekacauan besar akibat perang.
Media Barat Juga Jadi Sorotan
Dalam videonya, Jawaid juga mengkritik sejumlah media Barat, termasuk BBC, yang disebut menyiarkan informasi yang dipertanyakan, bahkan ia menyebutnya sebagai berita palsu terkait serangan drone di pangkalan militer Inggris di Siprus.
Menurutnya, laporan tersebut bertentangan dengan klarifikasi resmi dari UK Ministry of Defence yang menyatakan drone tersebut bukan berasal dari Iran.
Konflik Berpotensi Semakin Meluas
Dengan serangan balasan yang terus meningkat, kekhawatiran pun muncul bahwa konflik ini dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih besar di Timur Tengah.
Selain Israel dan Iran, sejumlah negara di kawasan, termasuk pangkalan militer Amerika di beberapa negara sekutu, kini berada dalam status siaga tinggi.












