PROGRES.ID – Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus memanas dan berpotensi meluas ke seluruh kawasan Asia Barat. Dalam wawancara dengan CNBC TV18, ekonom dan profesor dari Columbia University, Jeffrey Sachs, mengungkapkan analisis tajam mengenai motif di balik perang tersebut serta dampaknya terhadap ekonomi global.
Menurut Sachs, konflik ini tidak hanya soal nuklir atau keamanan regional, melainkan berkaitan dengan ambisi geopolitik yang lebih besar.
Ambisi Netanyahu dan Kepentingan AS
Sachs menilai perang ini sangat dipengaruhi oleh agenda lama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menyebut Netanyahu telah lama memiliki ambisi untuk melemahkan bahkan menggulingkan pemerintahan Iran.
Menurut Sachs, tujuan utama Israel adalah memastikan dominasi penuh di kawasan Timur Tengah serta menghilangkan kekuatan politik yang mendukung kemerdekaan Palestina.
“Netanyahu telah lama memimpikan perubahan rezim di Iran. Ini bagian dari strategi untuk memastikan tidak ada negara di kawasan yang mendukung Palestina,” jelas Sachs.
Sementara itu, kata Sachs, Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis yang lebih luas. Ia menyebut Washington berusaha mempertahankan pengaruhnya atas kawasan Timur Tengah yang kaya akan sumber daya energi.
Dalam pandangannya, pemerintahan Presiden Donald Trump melihat kontrol terhadap jalur energi dan minyak dunia sebagai bagian penting dari dominasi global.
Bukan Soal Senjata Nuklir
Sachs juga menepis narasi bahwa perang ini dipicu oleh ancaman nuklir Iran. Ia mengingatkan bahwa pada 2015 Iran sebenarnya telah menyepakati pengawasan ketat terhadap program nuklir melalui kesepakatan internasional yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Namun, perjanjian tersebut kemudian ditarik secara sepihak oleh pemerintahan Trump pada 2018, langkah yang menurut Sachs memperburuk ketegangan.
“Masalahnya bukan senjata nuklir. Ini soal hegemoni geopolitik,” tegasnya.
Ancaman Krisis Energi Global
Konflik ini juga berpotensi memicu guncangan besar terhadap ekonomi dunia, terutama jika jalur energi vital terganggu.
Sachs menyoroti kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan utama distribusi minyak dunia dari Timur Tengah.
Jika jalur tersebut terganggu, harga minyak dunia diperkirakan bisa melonjak jauh di atas 100 dolar per barel, memicu krisis ekonomi global.
Menurutnya, negara-negara di Asia akan menjadi pihak yang paling terdampak, termasuk:
- India
- Indonesia
- China
- Negara-negara Asia Tenggara lainnya
Ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah membuat kawasan ini rentan terhadap lonjakan harga minyak.
Negara Teluk Justru Jadi Target
Sachs juga memperingatkan bahwa negara-negara Teluk yang selama ini menjadi sekutu Amerika justru berada dalam posisi berbahaya.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS kini berpotensi menjadi sasaran serangan balasan Iran.
Menurut Sachs, kehadiran fasilitas militer Amerika di kawasan tersebut justru menjadikan negara-negara itu magnet bagi serangan drone dan rudal.
Perang Diprediksi Tidak Singkat
Pemerintah AS sebelumnya mengklaim operasi militer terhadap Iran bisa selesai dalam waktu empat hingga lima minggu. Namun, Sachs meragukan klaim tersebut.
Ia menilai perang udara saja hampir mustahil untuk menjatuhkan pemerintahan Iran tanpa operasi darat berskala besar.
Sebagai perbandingan, ia mengingatkan konflik panjang seperti di Afghanistan, Irak, dan Vietnam yang berlangsung selama bertahun-tahun meskipun melibatkan kekuatan militer besar.
Harapan pada Negara-Negara Besar

Sachs menilai satu-satunya cara realistis untuk menghentikan perang adalah tekanan dari negara-negara besar dunia. Ia menyebut negara-negara seperti China, India, Brasil, dan Rusia harus bersatu menekan AS dan Israel agar menghentikan operasi militer.
Menurutnya, dunia membutuhkan sistem internasional yang benar-benar menghormati hukum internasional dan Piagam PBB.
“Jika negara-negara besar bersatu mengatakan perang ini harus dihentikan, konflik ini bisa berakhir,” kata Sachs.
Dunia di Ambang Krisis Besar
Jika perang terus berlanjut, Sachs memperingatkan bahwa dunia bisa menghadapi krisis ekonomi global seperti krisis minyak pada tahun 1970-an.
Lonjakan harga energi, gangguan perdagangan, dan ketidakstabilan politik dapat menyebar ke berbagai wilayah, terutama Asia dan Eropa.
Karena itu, Sachs menilai langkah diplomasi internasional sangat mendesak sebelum konflik ini berubah menjadi perang regional yang jauh lebih besar.












