Perang AS–Israel vs Iran Picu Alarm Global: Bank Dunia Peringatkan Dampak Berantai ke Ekonomi Dunia

favicon progres.id
markas bank dunia
Markas Bank Dunia di Washington DC (Foto: Dok. PressTV)

PROGRES.ID – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini tak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mulai mengguncang fondasi ekonomi global. Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, memperingatkan adanya efek berantai yang bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi dunia.

Dalam pernyataannya, Banga menegaskan bahwa dampak konflik akan tetap terasa bahkan jika gencatan senjata sementara berhasil dipertahankan. Namun, risiko akan meningkat signifikan apabila negosiasi damai gagal dan konflik kembali memanas.

Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global dapat tergerus sekitar 0,3 hingga 0,4 persen dalam skenario dasar jika perang segera mereda. Sebaliknya, jika konflik berlarut, penurunan bisa mencapai hingga 1 persen.

Tekanan juga diperkirakan terjadi pada inflasi. Banga menyebut lonjakan inflasi global bisa mencapai 200 hingga 300 basis poin, bahkan berpotensi meningkat hingga 0,9 persen dalam skenario terburuk ketika perang berkepanjangan.

Bank Dunia memperbarui proyeksi pertumbuhan untuk negara berkembang dan pasar emerging menjadi 3,65 persen pada 2026, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4 persen. Dalam kondisi yang lebih buruk, angka tersebut bisa merosot hingga 2,6 persen. Sementara itu, inflasi di negara-negara tersebut diperkirakan naik menjadi 4,9 persen, bahkan berpotensi melonjak hingga 6,7 persen jika tekanan berlanjut.

Konflik ini juga berdampak langsung pada sektor energi. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga 50 persen, disertai gangguan pasokan gas, pupuk, helium, serta terganggunya sektor pariwisata dan penerbangan global.

Banga menyoroti pentingnya stabilitas di jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik krusial distribusi energi dunia. Ia mempertanyakan apakah proses negosiasi yang tengah berlangsung dapat menghasilkan perdamaian jangka panjang dan membuka kembali jalur tersebut secara normal.

“Jika tidak, dan konflik kembali pecah, dampaknya terhadap infrastruktur energi bisa jauh lebih besar dan berkepanjangan,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Bank Dunia telah berdiskusi dengan sejumlah negara berkembang, termasuk negara kepulauan kecil yang minim sumber energi, untuk memanfaatkan skema pendanaan darurat. Mekanisme ini memungkinkan negara mengakses dana yang telah disetujui tanpa prosedur tambahan, guna merespons krisis dengan lebih cepat.

Namun demikian, Banga mengingatkan agar negara-negara tidak gegabah mengambil kebijakan subsidi energi yang berisiko membebani fiskal dalam jangka panjang. Ia menekankan pentingnya menjaga ruang fiskal agar tidak semakin tertekan.

Di tengah kondisi tersebut, banyak negara berkembang menghadapi tantangan tambahan berupa tingginya utang dan suku bunga, yang membatasi kemampuan mereka dalam membiayai lonjakan biaya energi dan kebutuhan lainnya.

Krisis ini sekaligus menyoroti urgensi diversifikasi sumber energi. Bank Dunia kini mendorong pengembangan energi alternatif, termasuk nuklir, hidro, panas bumi, serta energi terbarukan seperti angin dan surya, guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Sementara itu, konflik di lapangan masih berlangsung dinamis. Serangan awal dilaporkan terjadi pada akhir Februari 2026, diikuti dengan aksi balasan berupa serangan rudal dan drone oleh Iran ke berbagai target di kawasan. Upaya gencatan senjata sempat dimediasi oleh Pakistan, namun perundingan antara kedua pihak berakhir tanpa kesepakatan final setelah pembahasan panjang.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, peringatan Bank Dunia menjadi sinyal kuat bahwa dampak konflik ini tidak hanya bersifat regional, tetapi berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *