PROGRES.ID – Pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan. Kapal induk USS George H.W. Bush (CVN-77) dilaporkan memilih rute tidak biasa dengan mengitari Afrika bagian selatan untuk mencapai wilayah operasi.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, khususnya setelah Angkatan Laut AS memperketat pengawasan di Selat Hormuz. Alih-alih melintasi jalur umum seperti Laut Merah dan Terusan Suez, kapal induk beserta armada pengawalnya menghindari kawasan rawan seperti Bab el-Mandeb.
Laporan USNI News menyebut keputusan ini berkaitan dengan ancaman keamanan, terutama potensi serangan dari kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Jalur alternatif ini dinilai lebih aman meski memakan waktu tempuh lebih lama.
Selain itu, kapal induk tersebut juga tidak melalui Selat Gibraltar menuju Laut Mediterania—rute yang biasanya digunakan kapal induk dari Pantai Timur AS saat menuju Timur Tengah.
Saat ini, USS George H.W. Bush dilaporkan tengah bergerak untuk bergabung dengan kekuatan angkatan laut AS lainnya di kawasan Laut Arab, seiring meningkatnya eskalasi militer.
Di waktu yang sama, United States Central Command mulai menerapkan blokade di jalur strategis Selat Hormuz, mengikuti arahan Presiden Donald Trump setelah pembicaraan dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan.
Sebelumnya, delegasi AS dan Iran sempat menggelar negosiasi di Islamabad pada 11 April 2026. Namun sehari kemudian, Wakil Presiden JD Vance mengonfirmasi bahwa perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan.
Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat sejak serangan militer yang dilancarkan AS bersama Israel pada akhir Februari lalu ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut memicu respons balasan dari Iran yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dengan situasi yang terus memanas, pengerahan kekuatan militer tambahan ini menandai meningkatnya risiko konflik yang lebih luas di kawasan strategis tersebut.












