PROGRES.ID – Seorang analis militer asal Brasil menyatakan bahwa Amerika Serikat belum pernah menghadapi lawan dengan karakteristik seperti Iran, terutama dalam konteks konflik modern yang melibatkan teknologi canggih.
Dalam tulisannya, Patricia Marins menyoroti perubahan signifikan dalam peta kekuatan militer global. Ia membandingkan situasi saat ini dengan era Perang Dunia II, ketika AS memiliki keunggulan teknologi yang sangat dominan, khususnya dalam pertempuran melawan Jepang di kawasan Pasifik.
Menurutnya, pada masa itu AS unggul dalam berbagai aspek, mulai dari radar pencarian, sonar aktif, hingga sistem kriptografi. Teknologi tersebut memungkinkan kapal perang Amerika mendeteksi musuh dari jarak jauh bahkan dalam kondisi gelap total, sementara pihak lawan masih mengandalkan sistem yang jauh lebih sederhana.
Namun, kondisi tersebut dinilai tidak lagi berlaku dalam konflik modern, terutama dalam menghadapi Iran. Marins menilai perkembangan pesat teknologi militer Iran telah mengubah keseimbangan kekuatan.
Ia menyebut Iran memiliki keunggulan signifikan dalam pengembangan rudal balistik, termasuk sistem jarak pendek hingga menengah. Selain itu, Iran juga dilaporkan telah menggunakan kendaraan luncur hipersonik dalam serangan terhadap Israel, dengan intensitas peluncuran yang tinggi selama konflik yang berlangsung sekitar 40 hari.
Dalam periode tersebut, Iran disebut mampu meluncurkan antara 30 hingga 50 rudal per hari secara berkelanjutan, menunjukkan kapasitas produksi dan operasional yang besar.
Marins juga menyoroti perkembangan teknologi drone Iran yang dinilai lebih maju, terutama dalam desain siluman dan kemampuan menghindari gangguan elektronik. Bahkan, ia menyebut Amerika Serikat terpaksa mengadaptasi desain drone Iran, seperti model Shahed, dalam pengembangan sistem serupa.
Di sisi lain, AS disebut masih menghadapi berbagai kendala dalam program pengembangan rudalnya pascakonflik tersebut.
Dalam kesimpulannya, Marins menilai konflik saat ini mencerminkan pergeseran menuju tatanan dunia multipolar, di mana dominasi satu kekuatan tidak lagi mutlak. Namun, ia menilai negara-negara Barat masih belum sepenuhnya mengakui perubahan tersebut.












