Pemerintah AS dan Media Barat Sedang Membangun Narasi Perpecahan di Iran

favicon progres.id
ketua parlemen iran mohammad bager qalibaf
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bager Qalibaf (Foto: PressTV)

PROGRES.ID – Sejumlah kalangan di Iran menilai pemerintah Amerika Serikat dan media Barat tengah membangun narasi yang tidak sesuai fakta terkait dinamika hubungan kedua negara. Tudingan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan politik dan militer dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bersama unsur pemerintahan dan militer, termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps, disebut menunjukkan sikap yang selaras dalam menghadapi tekanan dari Washington. Mereka menegaskan tidak ada perbedaan pandangan dalam merespons tuntutan Amerika Serikat.

Pernyataan ini sekaligus membantah berbagai laporan yang beredar di media Barat yang menyebut adanya perpecahan internal di tubuh pemerintahan Iran. Sejumlah pihak di Teheran menilai kabar tersebut tidak didukung bukti yang jelas dan lebih bersandar pada sumber anonim atau spekulasi.

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan pernyataan terkait rencana kunjungan sejumlah pejabat AS ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran. Namun, informasi tersebut kemudian dipertanyakan karena tidak sesuai dengan perkembangan di lapangan.

Sejumlah media internasional juga disebut turut menyebarkan laporan yang tidak akurat terkait proses negosiasi Iran-AS, termasuk klaim bahwa beberapa putaran pembicaraan telah berlangsung dan menghasilkan kesepakatan tertentu. Pihak Iran menegaskan bahwa informasi tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Di sisi lain, media Barat seperti Bloomberg disebut kembali mengangkat isu dugaan perbedaan pandangan di internal Iran, khususnya antara pemerintah, parlemen, dan militer. Namun, pejabat Iran menilai narasi tersebut sebagai upaya untuk melemahkan posisi negara tersebut dalam perundingan.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa seluruh elemen politik dan militernya tetap solid dalam menghadapi tuntutan yang dianggap berlebihan dari Amerika Serikat. Mereka juga menyatakan komitmen untuk mempertahankan posisi tersebut dalam setiap proses diplomasi.

Pengamat menilai, upaya untuk menyoroti perpecahan internal kerap menjadi strategi dalam konflik geopolitik. Namun, dalam kasus ini, Iran menegaskan bahwa konsolidasi internal justru semakin menguat di tengah tekanan eksternal yang terus meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *