PROGRES.ID – Isu dugaan penjarahan oleh tentara kembali menjadi sorotan setelah media Israel, Haaretz, mengulas praktik tersebut dalam laporan terbarunya. Dalam artikel itu disebutkan bahwa tindakan penjarahan bukan fenomena baru, melainkan telah muncul dalam berbagai konflik yang melibatkan militer Israel.
Laporan tersebut mengungkap dugaan adanya praktik pengambilan barang milik warga sipil selama operasi militer, termasuk di wilayah Lebanon. Barang-barang seperti perangkat elektronik, karpet, hingga kendaraan disebut menjadi sasaran, sementara pengawasan dari pihak atasan dinilai lemah.
Haaretz juga menyinggung catatan historis yang mengaitkan praktik serupa dengan konflik sebelumnya, mulai dari peristiwa di Yaffa pada 1948 hingga Qalqilya pada 1967. Dalam beberapa kasus, laporan menyebut adanya dugaan penggunaan barang hasil rampasan di fasilitas tertentu, meski klaim tersebut masih menjadi perdebatan.
Salah satu kesaksian yang dikutip dalam laporan menyebutkan bahwa barang-barang yang diduga hasil penjarahan bahkan pernah dipamerkan secara terbuka, memicu kritik publik karena dinilai tidak mendapat penanganan serius.
Di tengah sorotan tersebut, situasi di medan konflik juga tetap memanas. Pasukan Israel dilaporkan terus menghadapi tekanan dari kelompok bersenjata seperti Hizbullah dalam pertempuran di Lebanon.
Pengamat menilai kondisi ini memperlihatkan kompleksitas konflik yang tidak hanya menyangkut aspek militer, tetapi juga isu etika dan disiplin pasukan di lapangan. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak militer Israel terkait laporan terbaru tersebut.












