PROGRES.ID – Analis hubungan internasional, John Mearsheimer, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Dalam wawancara bersama Daniel Davis, ia menyebut perang tersebut sebagai kesalahan terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri AS, bahkan melampaui invasi Irak 2003.
Menurut Mearsheimer, konflik ini bukan sekadar kegagalan militer, tetapi juga kekalahan strategis yang berdampak luas secara global. Ia menilai tidak ada jalan keluar mudah bagi Washington, selain mengakui kekalahan—opsi yang dinilai sulit diterima secara politik oleh Presiden Donald Trump.
“Ini kekalahan yang jelas. Tidak ada cara untuk menyelamatkan situasi,” tegas Mearsheimer.
Ia membandingkan situasi ini dengan perang Irak, yang meski kontroversial, tidak menimbulkan efek global sebesar konflik dengan Iran saat ini. Perang Iran, menurutnya, telah merusak struktur aliansi AS di Timur Tengah dan memicu tekanan besar terhadap ekonomi internasional.
Mearsheimer juga menyoroti belum adanya keberhasilan berarti sejak konflik dimulai. Berbeda dengan perang Irak yang sempat diwarnai klaim “mission accomplished”, konflik Iran disebutnya sebagai “bencana total” tanpa pencapaian awal yang bisa dibanggakan.
Sementara itu, Trump dinilai masih berharap dapat memaksa Iran menyerah. Namun, pendekatan tersebut justru berpotensi memperburuk situasi ekonomi global dan melemahkan posisi politiknya di dalam negeri.
Dampak Meluas ke Eropa dan Ekonomi Global
Efek konflik tidak hanya terasa di kawasan Teluk, tetapi juga mulai menghantam Eropa. Mearsheimer menilai hubungan transatlantik kian memburuk, diperparah oleh ketegangan antara Washington dan para pemimpin Eropa.
Ia menyinggung kritik Kanselir Jerman Friedrich Merz terhadap strategi AS, serta perseteruan Trump dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bahkan telah memperingatkan potensi krisis energi dan pangan akibat konflik tersebut.
Menurut Mearsheimer, tekanan ekonomi yang sebelumnya melanda Asia kini mulai menjalar ke Eropa, dengan Inggris disebut sebagai salah satu negara yang paling terdampak.
Rusia Diuntungkan, AS Kehilangan Arah
Dalam analisisnya, Mearsheimer juga melihat Rusia sebagai pihak yang diuntungkan dari konflik ini. Kenaikan harga minyak serta berkurangnya dukungan militer AS ke Ukraina dinilai memperkuat posisi Moskow.
Ia juga meragukan efektivitas komunikasi antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam meredakan konflik. Menurutnya, rekam jejak diplomasi Trump menunjukkan minimnya hasil konkret dalam menyelesaikan perang, termasuk di Ukraina.
Blokade Jadi Opsi Utama, Risiko Eskalasi Tetap Besar
Mearsheimer memperkirakan AS akan terus mengandalkan blokade sebagai strategi utama terhadap Iran. Opsi lain seperti serangan udara atau invasi darat dinilai tidak realistis dan berisiko memperburuk keadaan.
Namun, ia menegaskan bahwa strategi tersebut kemungkinan besar tidak akan berhasil. Pada akhirnya, tekanan terhadap ekonomi global diprediksi akan memaksa AS untuk mengakhiri konflik melalui kesepakatan.
Meski demikian, risiko eskalasi tetap tinggi. Iran disebut memiliki kemampuan serangan balasan yang signifikan, termasuk potensi gangguan terhadap jalur energi vital seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.
“Dalam perang, tidak ada keajaiban. Harapan akan kemenangan instan hanyalah ilusi,” ujar Mearsheimer.
Ia menutup dengan peringatan bahwa konflik ini bukan hanya soal militer, tetapi juga tentang dampak berantai terhadap ekonomi dunia dan stabilitas geopolitik yang lebih luas.












