Hizbullah Lancarkan 11 Serangan Terkoordinasi ke Target Israel, Gunakan Drone hingga Rudal

favicon progres.id
infastruktur gas nahariyah hancur akibat hizbullah
Serangan Hizbullah merusak infrastruktur gas di Nahariyah yang diduduki israel (Foto: Telegram/X)

PROGRES.ID – Kelompok perlawanan Lebanon, Hizbullah, mengklaim telah melancarkan sedikitnya 11 operasi militer terhadap target Israel dalam rangkaian serangan terkoordinasi yang melibatkan drone, rudal, dan artileri.

Dalam pernyataan yang dirilis melalui media militernya, Hizbullah menyebut operasi tersebut menyasar berbagai titik strategis, termasuk konsentrasi pasukan dan peralatan militer Israel di wilayah selatan Lebanon.

Salah satu serangan dilaporkan terjadi di kota Naqoura, di mana dua serangan drone diluncurkan ke arah posisi militer Israel. Sementara itu, sebagian besar operasi difokuskan di wilayah Bayyadah, dengan target utama personel dan fasilitas militer.

Serangan yang dilakukan di Bayyadah mencakup penggunaan drone untuk menghantam peralatan tempur, penghancuran kamera pengawas di pos komando, serta serangan terhadap kendaraan lapis baja jenis Namer yang dilaporkan hancur bersama awaknya.

Selain itu, Hizbullah juga mengklaim meluncurkan serangan rudal ke markas komando Israel serta menembakkan artileri ke sejumlah posisi pasukan di wilayah yang sama.

Operasi lainnya mencakup peluncuran rudal ke titik-titik konsentrasi militer di kawasan Salah Ridge dan pusat kota Qantara, serta serangan ke wilayah Houla. Pos militer baru di Balat juga disebut menjadi sasaran tembakan artileri.

Rangkaian serangan ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh. Israel sebelumnya menyetujui penghentian sementara serangan di Lebanon menyusul tekanan regional, termasuk kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat pada awal April.

Namun, laporan menyebut aktivitas militer Israel kembali meningkat di Lebanon selatan, termasuk penerbitan peringatan evakuasi bagi warga di sejumlah wilayah, meskipun masa gencatan senjata sempat diperpanjang.

Menurut otoritas Lebanon, lebih dari 2.500 orang dilaporkan tewas sejak eskalasi konflik terbaru dimulai pada awal Maret, menandai meningkatnya intensitas kekerasan di kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *