AS Evaluasi Penempatan Pasukan di Eropa, Tekan NATO Tingkatkan Belanja Pertahanan

Penulis: Mukhtar Amin
Editor: Mukhtar Amin
nato
Bendera negara-negara NATO (Foto: Istimewa/PROGRES.ID)

PROGRES.ID, BRUSSELS – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan akan melakukan peninjauan menyeluruh terhadap keberadaan pasukan militernya di Eropa selama enam bulan ke depan. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan sejumlah negara anggota NATO terkait kontribusi anggaran pertahanan.

Pengumuman itu disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat menghadiri pertemuan para menteri pertahanan NATO di Brussels, Belgia, Kamis (19/6/2026).

Menurut Hegseth, evaluasi tersebut bertujuan memastikan negara-negara Eropa mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan mereka sendiri tanpa terus bergantung pada Amerika Serikat.

“Ini akan menjadi peninjauan yang nyata dan menyeluruh. Tujuannya memastikan NATO bergerak cepat menuju kondisi di mana Eropa memimpin dan memikul tanggung jawab utama atas pertahanan kawasan,” ujar Hegseth.

Ia menegaskan hasil evaluasi tersebut akan menunjukkan negara mana yang telah memenuhi komitmen pertahanannya dan mana yang masih tertinggal.

“Ada negara yang akan gagal dalam penilaian ini, sementara yang lain akan lulus dengan hasil yang sangat baik,” katanya.

Kontribusi NATO Bisa Dikurangi

Hegseth juga mengisyaratkan bahwa besaran kontribusi Amerika Serikat terhadap NATO di masa depan akan disesuaikan dengan tingkat komitmen negara-negara anggota lainnya dalam meningkatkan anggaran militer.

Menurutnya, Washington tidak akan terus menanggung beban terbesar jika sekutu-sekutunya tidak menunjukkan keseriusan yang sama.

“Jika sekutu lain tidak meningkatkan pengeluaran pertahanan dengan segera, maka kontribusi kami juga akan berkurang. NATO harus menjadi hubungan yang saling menguntungkan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak bisa terus membiayai keamanan Eropa dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan negara-negara yang secara langsung menikmati perlindungan tersebut.

Kritik untuk Sekutu Eropa

Dalam kesempatan yang sama, Hegseth juga melontarkan kritik kepada sejumlah negara Eropa yang disebut tidak memberikan akses pangkalan militer kepada pasukan AS selama operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Ia menyebut sikap tersebut sebagai tindakan yang mengecewakan.

“Presiden Donald Trump telah memberikan kesempatan kepada sekutu kami untuk menunjukkan dukungan kepada Amerika ketika kami meminta bantuan. Terlalu banyak yang gagal memenuhi harapan itu,” katanya.

Hegseth juga menyoroti masih adanya negara-negara dengan ekonomi besar di NATO yang dinilai tetap mengandalkan perlindungan Amerika Serikat tanpa meningkatkan kontribusi pertahanan mereka secara signifikan.

Trump Dorong Sekutu Tambah Anggaran Militer

Presiden Donald Trump dalam beberapa kesempatan memang kerap mengkritik NATO. Ia menilai banyak negara anggota belum mengalokasikan anggaran pertahanan yang memadai dan terlalu bergantung pada kekuatan militer Amerika Serikat.

Washington mendorong negara-negara Eropa dan sekutu di Asia untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga setidaknya 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) masing-masing.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, pemerintah AS baru-baru ini juga memberi tahu para sekutunya mengenai rencana pengurangan sejumlah aset militer yang selama ini disediakan bagi komando NATO.

Menurut laporan media setempat, pengurangan itu mencakup sekitar sepertiga dari 150 pesawat tempur F-15 dan F-16 yang sebelumnya dialokasikan untuk kebutuhan NATO. Selain itu, sejumlah pesawat pengisian bahan bakar di udara, pesawat pengintai, pesawat pembom, serta drone juga akan ditarik.

Laporan tersebut turut menyebut bahwa Washington berencana menarik satu kapal selam peluncur rudal jelajah serta mengurangi jumlah kelompok kapal induk yang selama ini ditempatkan untuk mendukung operasi NATO.

Kebijakan ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Amerika Serikat ingin mendorong negara-negara Eropa mengambil tanggung jawab yang lebih besar terhadap keamanan regional di tengah perubahan dinamika geopolitik global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *