PROGRES.ID, NEW DELHI — Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan rencana pertemuan para menteri luar negeri negara-negara Arab di kawasan Teluk, yang akan digelar di Oman pada Senin. Pertemuan tersebut ditujukan untuk menyusun kesepakatan mengenai kerangka pelayaran dan navigasi kapal melalui Selat Hormuz.

Pezeshkian mengatakan hasil kesepakatan itu nantinya akan disampaikan kepada organisasi maritim internasional terkait sebagai bagian dari upaya memberikan kepastian bagi lalu lintas pelayaran di salah satu jalur energi paling strategis di dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam wawancara dengan India Today di sela-sela KTT BRICS di New Delhi.

Menurut dia, Iran sebelumnya telah melakukan pembicaraan dengan Oman dan mencapai pemahaman mengenai kerangka khusus untuk navigasi di Selat Hormuz.

“Dalam kerangka tersebut, jalur akan tetap terbuka berdasarkan hukum internasional, dengan syarat Amerika Serikat menghentikan agresi dan serangan yang tidak adil,” kata Pezeshkian.

Iran Dorong Kerja Sama Negara Tetangga

Pezeshkian menegaskan Iran tidak memiliki persoalan dengan negara-negara tetangganya, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Pakistan dan Qatar. Ia juga menyebut Rusia dan China sebagai negara yang memiliki hubungan penting dengan Tehran.

Namun, Iran keberatan apabila pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan digunakan sebagai titik serangan terhadap wilayahnya.

Pezeshkian menegaskan Tehran tidak memulai perang dan mengklaim Iran hanya melakukan tindakan pertahanan sebagai respons terhadap agresi Amerika Serikat dan Israel.

Ia menyerukan negara-negara kawasan untuk memperkuat kerja sama dalam menciptakan perdamaian dan keamanan regional, alih-alih membiarkan kekuatan asing memperuncing perpecahan di antara negara-negara Timur Tengah.

Chabahar Jadi Fokus Hubungan Iran-India

Dalam wawancara tersebut, Pezeshkian juga menyoroti hubungan historis dan budaya Iran dengan India. Ia menyebut Pelabuhan Chabahar memiliki posisi strategis sebagai titik transit yang menghubungkan kawasan selatan dengan utara serta jalur timur dan barat.

Tehran, kata dia, terbuka terhadap peningkatan investasi India serta pembentukan usaha patungan di Chabahar maupun sektor lainnya.

Kerja sama ekonomi tersebut dinilai dapat memperkuat konektivitas regional sekaligus membuka jalur perdagangan alternatif bagi kedua negara.

BRICS Disebut Bisa Kurangi Dominasi AS

Pezeshkian turut menempatkan BRICS sebagai instrumen untuk menghadapi kebijakan unilateral dan sanksi Amerika Serikat.

Menurutnya, negara-negara anggota BRICS memiliki peluang memperluas perdagangan, investasi dan kerja sama ekonomi secara mandiri. Ia juga menilai New Development Bank dapat berperan dalam mendanai investasi bersama dan mengurangi ketergantungan negara anggota terhadap perekonomian Amerika Serikat serta dolar AS.

Pezeshkian berharap BRICS dapat berkontribusi dalam membangun sistem ekonomi internasional yang lebih mandiri dan multipolar.