PROGRES.ID, JAKARTA — Hujan meteor Orionid kembali menghiasi langit pada Oktober 2026. Fenomena astronomi tahunan ini diperkirakan mencapai puncaknya pada malam Rabu, 21 Oktober, hingga Kamis dini hari, 22 Oktober 2026. Kabar baiknya, hujan meteor Orionid dapat disaksikan dari Indonesia, selama kondisi cuaca dan langit mendukung.

Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, menjelaskan bahwa Orionid terbentuk dari serpihan komet Halley yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Gesekan dan interaksi partikel dengan atmosfer menghasilkan kilatan cahaya yang dikenal masyarakat sebagai bintang jatuh.

Menurut NASA, Orionid termasuk hujan meteor yang menarik untuk diamati karena meteor-meteornya bergerak cepat dan sebagian dapat meninggalkan jejak bercahaya. Dalam kondisi langit gelap, fenomena ini berpotensi menghasilkan sekitar 10 hingga 20 meteor per jam. Angka tersebut merupakan perkiraan dalam kondisi pengamatan ideal, bukan jumlah yang pasti terlihat oleh setiap orang.

Apakah Hujan Meteor Orionid Bisa Dilihat dari Indonesia?

Ya. Orionid dapat diamati dari belahan Bumi utara maupun selatan, sehingga Indonesia termasuk wilayah yang berpeluang menyaksikan fenomena ini.

Pengamat di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, hingga wilayah Indonesia timur dapat mencoba mengamati Orionid apabila langit cerah. Namun, hasil pengamatan setiap daerah bisa berbeda karena dipengaruhi awan, polusi cahaya, kondisi atmosfer, dan posisi Bulan.

Wilayah yang jauh dari lampu perkotaan biasanya memberikan kesempatan lebih baik untuk melihat meteor yang redup. Karena itu, pantai yang aman, kawasan perdesaan, atau lokasi pengamatan astronomi dengan cakrawala terbuka bisa menjadi pilihan, selama akses dan kondisi setempat memungkinkan.

NASA mencatat periode aktivitas Orionid berlangsung dari 2 Oktober hingga 7 November 2026, dengan puncak pada malam 21–22 Oktober. Artinya, kesempatan mengamati tidak terbatas pada satu malam saja, meskipun aktivitas meteor diperkirakan paling tinggi di sekitar waktu puncak.

Jam Berapa Hujan Meteor Orionid Terlihat?

Waktu yang patut diprioritaskan adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar, terutama ketika Bulan sudah terbenam dan langit masih cukup gelap.

NASA memperkirakan cahaya Bulan dapat mengganggu pengamatan Orionid tahun ini. Karena itu, kesempatan melihat meteor yang lebih redup dapat membaik setelah Bulan turun di bawah cakrawala.

Meski demikian, waktu terbenam Bulan tidak sama di semua wilayah Indonesia. Perbedaan lokasi geografis membuat jadwal pengamatan di zona WIB, WITA, dan WIT perlu disesuaikan dengan kota masing-masing.

Jangan menganggap pukul tertentu sebagai jadwal yang berlaku untuk seluruh Indonesia. Sebelum mengamati, periksa waktu terbenam Bulan dan prakiraan cuaca setempat untuk malam 21–22 Oktober.

Berikut panduan singkat untuk menentukan waktu pengamatan:

  • Malam 21 Oktober: pilih lokasi pengamatan sebelum larut malam dan pastikan langit cukup terbuka.
  • Dini hari 22 Oktober: prioritaskan periode setelah Bulan terbenam hingga langit mulai terang.
  • Menjelang fajar: hentikan pengamatan ketika cahaya fajar mulai mengurangi kontras meteor yang terlihat.

Panduan tersebut merupakan acuan umum. Waktu terbaik secara lokal tetap bergantung pada posisi Bulan, kondisi langit, dan waktu terbit Matahari di lokasi pengamatan.

Mengapa Hujan Meteor Ini Disebut Orionid?

Nama Orionid berasal dari rasi bintang Orion. Jika lintasan meteor ditarik ke belakang, meteor-meteor dalam hujan ini seolah-olah berasal dari suatu titik di sekitar rasi tersebut. Titik itu disebut radiant.

Namun, meteor tidak benar-benar muncul dari bintang-bintang Orion. Fenomena ini terjadi ketika Bumi melewati jalur debu dan serpihan yang ditinggalkan komet Halley dalam perjalanannya mengelilingi Matahari.

Partikel-partikel kecil tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik. Pada kecepatan tinggi itu, interaksi dengan atmosfer menghasilkan cahaya yang terlihat sebagai garis terang di langit. Sebagian meteor juga dapat meninggalkan jejak bercahaya sesaat setelah melintas.

Komet Halley sendiri mengelilingi Matahari kira-kira setiap 75–76 tahun. Komet tersebut terakhir terlihat dari Bumi pada 1986 dan diperkirakan kembali pada 2061. Meski kometnya tidak sedang melintas dekat Bumi, debu yang ditinggalkannya tetap dapat menghasilkan hujan meteor tahunan.

Cara Menyaksikan Orionid Tanpa Teleskop

Kabar baik bagi masyarakat yang ingin menikmati hujan meteor ini, Orionid tidak membutuhkan teleskop atau teropong khusus. Mata telanjang justru lebih praktis karena meteor dapat melintas di berbagai bagian langit.

Agar peluang pengamatan lebih baik, lakukan beberapa langkah berikut.

1. Cari tempat dengan polusi cahaya rendah.

Jauhi lampu jalan, gedung yang terang, dan pusat kota jika memungkinkan. Semakin gelap langit, semakin besar peluang melihat meteor yang redup.

2. Periksa cuaca sebelum berangkat.

Awan tebal atau hujan dapat menghalangi pandangan ke langit. Periksa prakiraan cuaca BMKG sesuai wilayah dan tanggal pengamatan. Kondisi cerah di satu kota tidak menjamin cuaca serupa di daerah lain.

3. Beri waktu mata menyesuaikan diri dengan kegelapan.

Hindari terus-menerus melihat layar ponsel yang terang. Mata membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan gelap, sehingga pengamat dapat lebih mudah mengenali kilatan yang tidak terlalu terang.

4. Pandang area langit yang luas.

Walaupun Orionid dinamai berdasarkan rasi Orion, meteor dapat melintas jauh dari titik radiannya. Tidak perlu menatap satu bintang atau satu bagian langit secara terus-menerus.

5. Siapkan tempat yang nyaman dan aman.

Gunakan alas duduk atau kursi yang memungkinkan Anda melihat langit tanpa cepat lelah. Pastikan lokasi mudah diakses, tidak berada di tepi jalan berbahaya, dan memiliki jalur pulang yang aman.

NASA menekankan bahwa pengamatan hujan meteor dapat dilakukan tanpa peralatan khusus. Kesabaran juga penting karena meteor tidak muncul secara teratur setiap beberapa detik.

Apakah Orionid 2026 Bisa Menghasilkan 20 Meteor per Jam?

Dalam kondisi ideal, NASA memperkirakan Orionid dapat mencapai sekitar 10–20 meteor per jam. Namun, angka tersebut bukan jaminan bahwa setiap pengamat akan melihat sebanyak itu.

Pengamatan dari pusat kota yang terang bisa menghasilkan jauh lebih sedikit meteor yang terlihat. Awan, kabut, cahaya Bulan, serta sudut pandang pengamat juga memengaruhi hasilnya.

Karena itu, jangan kecewa apabila hanya melihat beberapa meteor selama pengamatan. Jumlah meteor yang terlihat secara langsung sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan kemampuan mata mendeteksi kilatan yang singkat.

Jika cuaca tidak mendukung pada malam puncak, Orionid masih aktif hingga awal November. Pengamatan pada malam lain tetap memungkinkan, meskipun jumlah meteor yang terlihat bisa berbeda dari periode puncaknya.

Kesimpulan: Indonesia Punya Peluang Menyaksikan Orionid

Hujan meteor Orionid 2026 dapat disaksikan dari Indonesia dan diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 21 hingga dini hari 22 Oktober. Waktu yang layak diprioritaskan adalah setelah tengah malam, terutama setelah Bulan terbenam dan sebelum fajar membuat langit semakin terang.

Tidak diperlukan teleskop untuk menikmati fenomena ini. Pilih lokasi yang gelap dan aman, periksa cuaca, serta sesuaikan jadwal dengan waktu terbenam Bulan di wilayah masing-masing.

Hal terpenting, puncak hujan meteor tidak berarti pertunjukan akan terlihat jelas di setiap daerah. Kondisi langit setempat tetap menjadi faktor penentu apakah masyarakat dapat menyaksikan kilatan Orionid secara langsung.