PROGRES.ID – Amerika Serikat (AS) diam-diam menipiskan kehadirannya di Timur Tengah. Pasukan dipindahkan dari sejumlah pangkalan, staf kedutaan dikurangi, dan semua langkah itu muncul ketika Washington dikabarkan menimbang kembali serangan ke Iran.
NBC News melaporkan pada Rabu (21/10/2026), berdasarkan dua pejabat AS dan dua sumber lain, bahwa pasukan AS secara senyap mengurangi kehadiran di pangkalan-pangkalan kawasan dalam beberapa hari terakhir. Pengurangan itu mencakup pangkalan di Yordania, Qatar, dan Kuwait.
Pengurangan itu disebut sebagai bagian dari rencana pimpinan militer. Seorang pejabat dan satu sumber menyatakan memindahkan pasukan ke lokasi yang lebih aman termasuk dalam perencanaan. Komando Pusat AS (CENTCOM) memberi penjelasan yang lebih datar. Juru bicaranya mengatakan militer rutin memindahkan personel dan aset untuk menjaga kesiapan misi.
Kedutaan Ikut Dikurangi
Langkah serupa berlangsung di jalur diplomatik. Kepala sejumlah misi diplomatik AS diberi tahu bahwa mereka akan beroperasi dengan staf lebih sedikit. Khusus untuk Arab Saudi, Departemen Luar Negeri menetapkan status “ordered departure” bagi Kedutaan AS di Riyadh, sehingga hanya personel darurat yang bertugas.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott membantah laporan Reuters sebelumnya soal perintah keluar bagi staf di seluruh kedutaan kawasan, tetapi membenarkan perintah itu berlaku untuk Arab Saudi. Menurut klarifikasinya, perintah hanya mencakup pegawai pemerintah AS yang tidak esensial di Saudi, dengan alasan meningkatnya serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi, termasuk bandara sipil dan infrastruktur penting. Pigott juga menegaskan keselamatan personel dan keluarga mereka menjadi prioritas utama.
Versi Press TV menyebut alasan itu sebagai respons atas operasi Angkatan Bersenjata Yaman, yang disebut menerapkan kebijakan “pengepungan dibalas pengepungan” sejak Juli untuk menekan Riyadh menghentikan blokade dan agresi terhadap Yaman.
Kerusakan Pangkalan Jadi Dasar Evaluasi
Menurut Press TV, yang mengutip Breaking Defense, Departemen Perang AS (sebutan baru Pentagon) mengevaluasi ulang masa depan instalasi militernya di Asia Barat setelah serangan balasan Iran merusak sejumlah fasilitas penting. Seorang pejabat senior disebut bekerja bersama CENTCOM untuk menilai fasilitas yang rusak dan menentukan mana yang masih diperlukan.
Laporan itu menyebut sejumlah titik terdampak selama konflik 28 Februari-7 April:
- Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar: pangkalan regional terbesar AS, dan pusat operasi udaranya dilaporkan tidak berfungsi.
- Arab Saudi dan Yordania: instalasi militer ikut menjadi sasaran.
- Bahrain: infrastruktur militer disebut rusak berat, memukul kemampuan logistik AS di kawasan.
Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao disebut mengakui parahnya kerusakan di Bahrain. Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Daryl Caudle menyatakan Angkatan Laut belum akan kembali ke Naval Support Activity Bahrain dalam waktu dekat.
Keputusan Belum Final
Pengurangan ini dikaitkan dengan kemungkinan eskalasi. Para pejabat militer dilaporkan telah menyodorkan opsi serangan baru ke Iran kepada Presiden Donald Trump, tetapi belum ada keputusan final untuk melanjutkan pertempuran skala besar. Pola yang tampak pun tidak sepenuhnya baru. Narasumber menyebut langkah ini menyerupai penarikan di awal perang pada Februari.
Sumber: Press TV, NBC News dan Breaking Defense (melalui Press TV).

Komentar