PROGRES.ID – SoftBank, nama yang selama dekade terakhir identik dengan taruhan besar pada startup teknologi, menunjukan perubahan strategi di Indonesia pada 2025. Alih-alih hanya menanam modal lewat dana internasional ke perusahaan tahap pra-IPO seperti yang terjadi pada ekosistem super-app, kali ini entitas SoftBank membeli saham perusahaan yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia (BEI): PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO). Peralihan ini penting — bukan sekadar pembelian saham, tapi sinyal bahwa SoftBank melihat peluang berbeda pada perusahaan publik Indonesia.
Beberapa startup yang mendapat suntikan dari Softbank di Indonesia seperti Alodokter, Tokopedia, Ajaib, Modalku, dan OY!
Apa yang terjadi pada NANO?
Pada akhir Maret–April 2025, PT Softbank Ventura Indonesia melakukan pembelian saham NANO secara bertahap: pembelian besar awal sebesar 165 juta lembar pada 27 Maret 2025 (harga tercatat Rp18/lembar), lalu menambah 20 juta lembar pada 22 April 2025 (harga Rp26/lembar). Pergerakan ini dilaporkan oleh perusahaan dan media keuangan local dan publikasi di BEI.
Karena akumulasi pembelian tersebut, Softbank Ventura Indonesia tercatat menguasai sekitar 7,82% saham NANO — yang masuk dalam daftar perubahan kepemilikan lebih dari 5% yang dipublikasikan BEI pada awal April 2025.
NANO merupakan perusahaan terbatas yang berdiri sejak tahun 2019 dan bergerak di bidang jasa layanan teknologi riset dan pengembangan, rekayasa material dan nanoteknologi. NANO melakukan IPO dan terdaftar di BEI pada 10 Maret 2022.
Entitas SoftBank yang berbeda: why it matters
Di Indonesia, SoftBank beroperasi melalui beberapa entitas dan dana. Perbedaan entitas yang berinvestasi penting karena mencerminkan strategi, sumber modal, dan kemungkinan horizon investasi:
Pada GoTo (Gojek–Tokopedia): entitas yang tercatat sebagai investor besar adalah SVF GT Subco (Singapore) Pte Ltd, yaitu bagian dari ekosistem SoftBank Vision Fund / SVF yang kerap masuk pada putaran pra-IPO dan melakukan investasi strategis untuk mendukung ekspansi startup sampai mereka melantai. Investor ini masuk jauh lebih awal ke Tokopedia/GoTo dan berperan sebagai pemodal pertumbuhan.
Pada NANO: entitas yang tercatat membeli saham publik adalah PT Softbank Ventura Indonesia — entitas lokal (atau kendaraan investasi yang terdaftar di Indonesia) yang melakukan pembelian saham di pasar setelah NANO tercatat di BEI. Ini bukan transaksi pra-IPO yang sama seperti model SVF pada Tokopedia.
Perbedaan ini menandakan dua model dukungan SoftBank di pasar Indonesia: (1) investasi pra-IPO/putaran besar via Vision Fund untuk membentuk “unicorn” (high growth + kontrol), dan (2) akuisisi saham publik lewat entitas lokal untuk mengambil posisi kepemilikan di perusahaan tercatat (lebih mirip investor institusional jangka menengah-panjang).
Mengapa SoftBank Berinvestasi di NANO?
Berdasarkan praktik investasi global SoftBank dan pernyataan perusahaan/perantara, beberapa motif yang mungkin:
Akses ke aset teknologi dengan valuasi lebih terjangkau di pasar publik — setelah IPO, beberapa perusahaan niche (mis. nanoteknologi & riset) bisa diperdagangkan pada valuasi yang menarik bagi investor institusional.
Diversifikasi portofolio regional — selain big-tech dan platform, SoftBank mungkin ingin memperluas eksposur ke sektor teknologi yang bersifat industri (research & manufacturing).
Investasi jangka panjang lewat entitas lokal — pernyataan korporasi NANO menyebut tujuan “investasi jangka panjang dengan kepemilikan saham langsung”. Ini memperkuat asumsi SoftBank Ventura menargetkan alokasi modal yang tidak hanya berspekulasi jangka pendek.
Dampak pada pasar dan pemegang saham kecil
Likuiditas & sentimen harga: Pembelian dalam jumlah besar oleh investor institusional ternama sering memicu sentimen positif dan mendorong permintaan dari investor lain. Contoh: penambahan transaksi yang dilaporkan pada April 2025 berkontribusi pada perhatian pasar terhadap NANO.
Kontrol & tata kelola: Meski kepemilikan 7–8% belum merupakan pengendalian, posisi tersebut memberi SoftBank hak suara yang berarti dan potensi pengaruh tata kelola jika mereka menambah kepemilikan. Investor ritel perlu memantau keterbukaan informasi dan agenda RUPS.
Sinyal untuk startup lokal: Langkah ini menunjukkan bahwa modal besar tidak selalu hanya “membiayai” startup dari tahap awal — modal global juga bisa masuk lewat pasar saham domestik, membuka jalur keluar atau pendanaan alternatif bagi perusahaan teknologi yang memilih go public lebih awal.
Bandingkan dengan investasi SoftBank di GoTo
Model investasi SoftBank di Tokopedia/GoTo lebih panjang dan bersifat ekosistem-building: masuk sejak fase startup, ikut mendorong ekspansi, lalu menikmati exit atau nilai dari listing/merger. Entitas SVF GT Subco mewakili dana Vision Fund yang membawa modal besar dan pengaruh strategis. Dalam kasus NANO, entitas lokal membeli saham setelah listing — pendekatan yang lebih “pasar-terampil” ketimbang “operator-venture”.
Data pasar singkat (tanggal referensi)
- Kepemilikan SoftBank Ventura Indonesia di NANO: ~7,82% (laporan perubahan kepemilikan, April 2025).
- Transaksi tercatat: pembelian 165 juta lembar (27 Maret 2025) dan tambahan 20 juta lembar (22 April 2025) sebagaimana dilaporkan korporasi NANO dan media.
Harga saham (indikasi pasar): data pasar menunjukkan NANO masih bergerak volatil sepanjang 2025; untuk gambaran harga perdagangan terkini per 11 September 2025 tercatat bergerak di kisaran puluhan rupiah per lembar (sumber pasar saham). Perhatikan bahwa harga saham berfluktuasi setiap hari — periksa platform broker atau IDX untuk harga real-time.
Implikasi jangka menengah untuk pelaku pasar Indonesia
Investor institusional asing makin aktif di saham teknologi lokal. Ini membuka peluang likuiditas sekaligus persaingan di valuasi.
Perusahaan teknologi lokal punya jalur alternatif penggalangan dana — listing bisa menarik investor global yang sebelumnya hanya fokus di startup.
Kewaspadaan terhadap konsentrasi kepemilikan — masuknya pemain besar harus diikuti transparansi publik supaya tata kelola dan kepentingan pemegang saham minoritas terlindungi.












