PROGRES.ID – Diwali, atau Deepavali, adalah salah satu festival paling penting dan meriah di India, dirayakan oleh umat Hindu, Jain, Sikh, dan beberapa komunitas Buddha.
Diwali dikenal sebagai “Festival Cahaya” karena dalam perayaan ini, rumah, jalan, dan tempat-tempat ibadah dipenuhi dengan lampu minyak (diyas) dan kembang api untuk melambangkan kemenangan terang atas kegelapan, serta kebaikan atas kejahatan.
Makna dan Cerita Diwali
Setiap komunitas memiliki interpretasi berbeda mengenai makna Diwali. Bagi umat Hindu, Diwali menandai kembalinya Rama ke Ayodhya setelah 14 tahun pengasingan dan kemenangannya atas Rahwana.
Di Gujarat, festival ini juga dianggap sebagai awal tahun baru dalam kalender bisnis. Bagi umat Jain, Diwali memperingati moksha (pencerahan) dari Mahavira, sementara umat Sikh merayakannya sebagai hari pembebasan Guru Hargobind dari penjara Mughal.
Persiapan dan Tradisi Diwali
Perayaan Diwali biasanya berlangsung selama lima hari, dengan hari ketiga sebagai puncaknya. Persiapan dimulai jauh sebelumnya, dengan orang-orang membersihkan dan mendekorasi rumah mereka.
Mereka menggambar rangoli (pola dekoratif) di depan pintu, menggantung lampu, dan membeli pakaian serta perhiasan baru.
Pada malam Diwali, masyarakat melakukan puja (upacara doa) kepada Dewi Lakshmi, dewi kekayaan dan kemakmuran, agar diberkahi di tahun mendatang.
Setelah itu, mereka menyalakan lampu-lampu diya, menikmati pesta dengan makanan manis, dan bermain petasan sebagai bagian dari kegembiraan.
Pesan Sosial dan Lingkungan
Selain makna spiritual, Diwali juga mengajarkan pentingnya persatuan dan kebersamaan. Orang-orang saling mengunjungi keluarga dan teman untuk bertukar hadiah dan ucapan selamat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kampanye untuk Diwali ramah lingkungan semakin gencar, mengingat polusi udara yang disebabkan oleh petasan.






