CEO TotalEnergies: Lebih Baik Bayar untuk Lewat Selat Hormuz daripada Ditutup Total!

favicon progres.id
ceo totalenergies patrick pouyanne
CEO TotalEnergies Prancis, Patrick Pouyanné (Foto: Mandel NGAN/AFP)

PROGRES.ID – CEO raksasa energi Prancis TotalEnergies, Patrick Pouyanné, menilai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz jauh lebih penting bagi stabilitas pasar global, bahkan jika kapal harus membayar biaya transit.

Pernyataan itu disampaikan Pouyanné dalam sebuah forum di sela-sela pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di Washington. Ia menegaskan bahwa kelancaran arus perdagangan melalui Selat Hormuz menjadi kunci bagi kebebasan pasar energi dunia.

“Yang terpenting adalah jalur ini tetap terbuka dan bisa dilalui, meskipun ada biaya yang harus dibayar,” ujarnya seperti dinukil dari France24.

Sejak konflik di Timur Tengah pecah pada 28 Februari, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global—mengalami gangguan signifikan.

Situasi semakin kompleks setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, yang dinilai menjadi hambatan tambahan bagi distribusi energi global.

Pouyanné memperingatkan bahwa kondisi ini dapat mengurangi likuiditas pasar energi dan memicu ketidakpastian harga.

Ia menambahkan, negara-negara Barat sejauh ini masih mampu menahan dampak terburuk berkat cadangan minyak dan gas yang dimiliki. Namun, jika konflik dan blokade berlangsung lebih dari tiga bulan, risiko gangguan pasokan akan semakin nyata.

Menurutnya, sektor yang paling rentan terdampak adalah bahan bakar pesawat dan diesel. Selain itu, pasokan pupuk—yang bergantung pada produk turunan minyak—juga berpotensi terganggu dan bisa berdampak pada kenaikan harga pangan serta inflasi global.

Pouyanné juga membandingkan situasi ini dengan jalur pelayaran lain seperti Terusan Panama dan Terusan Suez, di mana kapal memang dikenakan biaya untuk melintas.

Meski demikian, ia menekankan bahwa ancaman utama bukan pada biaya, melainkan potensi penutupan mendadak Selat Hormuz yang dapat memicu lonjakan harga dan ketidakstabilan pasar energi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *