PROGRES.ID – Pada Desember 2011, Amerika Serikat kehilangan salah satu pesawat intelijen paling rahasianya di wilayah Iran. Televisi Iran kemudian menayangkan RQ-170 Sentinel dalam kondisi nyaris utuh, dikelilingi personel militer. Peristiwa itu kerap dipandang sebagai titik balik program drone Iran, meski akarnya jauh lebih tua.

Uraian ini disampaikan dalam video “How Iran Became the World’s Drone Superpower” di kanal YouTube Legitimate Targets yang dipandu Jackson Hinkle. Video tersebut menggambarkan program drone Iran sebagai proses puluhan tahun, dari kebutuhan darurat di medan perang hingga bagian inti strategi militer negara itu. Perlu dicatat, kanal tersebut memiliki sudut pandang tertentu, dan sejumlah klaim terkait peristiwa 2026 belum diverifikasi secara independen.

Jatuhnya RQ-170 dan Permintaan Obama

RQ-170 Sentinel dikembangkan Lockheed Martin Skunk Works dan dipakai CIA untuk misi yang risiko terdeteksinya bisa memicu insiden internasional. Keberadaannya baru diakui secara resmi pada 2009, setelah pengamat penerbangan melihat pesawat misterius di Pangkalan Kandahar, Afghanistan, dan menjulukinya “Beast of Kandahar”.

Menurut laporan The Washington Post yang dikutip dalam video, salah satu misi awal RQ-170 menembus lebih dari 600 mil ke dalam Iran dan mengamati fasilitas nuklir rahasia dekat Qom tanpa respons berarti dari pertahanan Iran. Ratusan misi pengintaian disebut menyusul.

Semuanya berubah ketika salah satu drone itu tidak kembali. Amerika Serikat mengaitkan kehilangan itu dengan kerusakan teknis dan tidak pernah merilis telemetri yang diklasifikasikan, sehingga urutan teknis kejadiannya belum diketahui publik. Presiden Barack Obama secara terbuka mengatakan Washington telah meminta pesawat itu dikembalikan. Iran menolak.

Berawal dari Perang Iran-Irak

Video itu menegaskan bahwa RQ-170 bukan awal cerita. Pada awal 1980-an, Iran mengandalkan pesawat pengintai RF-4 Phantom yang diawaki manusia. Ketika pertahanan udara Irak membaik dan satu pesawat pengintai Iran tertembak jatuh, risiko kehilangan pesawat sekaligus pilot menjadi terlalu mahal.

Situasi diperburuk oleh Revolusi Islam 1979. Iran yang sebelumnya menjadi salah satu pelanggan terbesar senjata Amerika kehilangan akses suku cadang, dan sanksi makin ketat. Sekelompok mahasiswa dan insinyur Universitas Isfahan lalu mencoba memasang kamera pada pesawat tanpa awak.

Drone generasi pertama itu sangat sederhana. Kantong infus medis dipakai sebagai wadah bahan bakar, baling-balingnya terbuat dari kayu, dan peluncurnya dirakit manual. Pesawat itu sulit dikendalikan dalam kondisi berangin sehingga operator kadang harus memakai parasut dan mencari drone setelah misi. Meski begitu, menurut video tersebut, drone awal Iran memetakan hampir 14.000 kilometer persegi dan menghasilkan lebih dari 5.000 bingkai gambar pengintaian selama perang.

Dilembagakan di Bawah Sanksi

Seusai perang, Iran melembagakan upaya itu. Organisasi seperti Quds Aviation mengembangkan sistem tanpa awak yang lebih mampu, sementara keluarga Mohajer dan Ababil berkembang dari sisi jangkauan dan keandalan. Sanksi membentuk pola kerjanya: bila mesin pilihan tak tersedia, mesin lain disesuaikan, dan komponen terlarang dicari lewat perantara, direkayasa balik, atau diganti komponen sipil.

Menjelang akhir 1990-an, Shahed Aviation Industries, yang semula berfokus pada helikopter, masuk ke pengembangan drone. Salah satu langkahnya adalah mempelajari drone asing, termasuk keluarga Hermes buatan Israel. Pada 2007 lahir Shahed 123, disusul rencana Shahed 129 yang dirancang untuk misi tempur.

Dampak RQ-170

Menurut video itu, akses fisik ke drone canggih Amerika mempercepat program yang sudah berjalan. Kepala Staf Angkatan Udara AS saat itu, Jenderal Norton Schwartz, mengakui pada Desember 2011 adanya potensi rekayasa balik. Pada 2014 Iran memperkenalkan pesawat yang diklaim hasil rekayasa balik RQ-170. Banyak analis Barat awalnya skeptis, karena tampilan serupa belum tentu berarti kemampuan serupa.

Namun Iran terus mengembangkan varian, termasuk Shahed-171 yang lebih besar serta Shahed-161 dan Shahed-191 yang lebih kecil. Menurut video itu, yang penting bukan apakah pesawat tersebut tiruan sempurna, melainkan bahwa Iran menyerap cukup banyak pelajaran untuk bereksperimen dan memperbaiki desain. Jika RQ-170 dibuat untuk mengumpulkan intelijen, garis keturunan Iran kian mencakup pesawat untuk menyerang.

Shahed-136 dan Ekonomi Perang Udara

Drone cocok dengan strategi Iran yang dibatasi faktor geografi dan kekuatan udara konvensional. Drone relatif murah, mudah disembunyikan dan dipindahkan, serta memungkinkan kelompok bersenjata sekutu Iran, seperti Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Ansarullah di Yaman, memiliki kemampuan serangan jarak jauh tanpa angkatan udara.

Simbol pendekatan ini adalah Shahed-136, drone serang sekali pakai berbiaya rendah. Karena tidak dirancang kembali, ia tak memerlukan sistem pemulihan. Bagi pihak bertahan, ini menciptakan dilema: drone murah tetap harus dicegat karena dapat merusak radar, depot bahan bakar, atau gardu listrik, sementara rudal pencegat bisa jauh lebih mahal. Gelombang drone juga dapat menguras pertahanan sebelum rudal jelajah dan balistik tiba.

Dari Ukraina ke Serangan April 2024

Konsep itu diuji dalam skala besar pada musim gugur 2022, ketika warga Ukraina mulai mendengar suara menyerupai mesin pemotong rumput atau motor dari langit. Rusia memperoleh Shahed-131 dan Shahed-136, lalu mengubahnya menjadi program industri massal dengan komponen, navigasi, dan hulu ledak yang diadaptasi. Video itu menyebut laporan bahwa pada 2026 Rusia memasok versi buatannya, Geran-2, kembali ke Iran, membentuk “lingkaran umpan balik” internasional.

Pada malam 13 April 2024, Iran meluncurkan serangan langsung pertamanya dari wilayahnya ke Israel. Drone diluncurkan lebih dulu karena lambat, disusul rudal jelajah, lalu rudal balistik yang jauh lebih cepat. Sekitar 170 drone dilaporkan terlibat, bersama puluhan rudal jelajah dan lebih dari 100 rudal balistik.

Amerika Ikut Meniru

Video itu juga menyoroti pembalikan peran. Setelah perang Rusia-Ukraina memperlihatkan nilai pesawat murah yang bisa hilang dalam jumlah besar, Pentagon pada 2025 memperkenalkan LUCAS, sistem serang tanpa awak berbiaya rendah seharga sekitar 35.000 dolar AS. Menurut video, Reuters melaporkan pada Maret 2026 bahwa LUCAS telah dipakai dalam pertempuran melawan Iran. Disebutkan pula bahwa LUCAS dikembangkan setelah AS memperoleh dan merekayasa balik Shahed-136. Pada April 2026, Komando Pusat AS disebut merilis rekaman serangan terhadap UAV sayap terbang Iran di darat, yang diidentifikasi analis berasal dari keluarga turunan RQ-170.

Pelajaran Utamanya

Video tersebut menyimpulkan bahwa RQ-170 tidak melahirkan program drone Iran, melainkan mempercepatnya, karena Iran sudah memiliki industri yang cukup matang untuk memanfaatkannya. Kini siklus meniru, menyesuaikan, dan memperbaiki telah menjadi internasional, dan drone murah mengubah cara militer menghitung nilai pencegat dan pertahanan udara.a