PROGRES.ID – Angkatan Laut Iran mengumumkan pengerahan unit operasional dalam formasi baru di kawasan timur Selat Hormuz, Laut Oman, hingga Laut Arab. Langkah tersebut dilakukan setelah tim pengawas mendeteksi sebuah kapal tanker yang mengalami kerusakan dan terbakar ketika mencoba melintasi zona yang dibatasi.
Dalam keterangannya pada Selasa, Angkatan Laut Iran menyebut kapal tanker itu terpantau sekitar tengah hari. Kapal tersebut dilaporkan mengalami insiden saat berusaha melewati kawasan terlarang dengan sistem navigasi yang dinonaktifkan.
Pengerahan unit baru itu, menurut pihak Angkatan Laut, ditujukan untuk memperkuat pemantauan secara berkelanjutan dan waktu nyata terhadap aktivitas pihak yang mereka sebut sebagai musuh, sekaligus mengawasi lalu lintas pelayaran di kawasan strategis tersebut.
Iran Minta Kapal Tidak Mematikan Sistem Navigasi
Angkatan Laut Iran mengimbau seluruh kapal yang beroperasi di kawasan tersebut agar tidak mematikan perangkat elektronik mereka. Semua kapal juga diminta mematuhi peraturan pelayaran internasional dan berkoordinasi dengan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran sebelum melintasi wilayah itu.
Teheran menyatakan koordinasi tersebut diperlukan untuk membantu memastikan perjalanan kapal berlangsung dengan aman.
Peringatan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi global. Pembatasan pelayaran di kawasan tersebut telah menambah kekhawatiran terhadap keselamatan kapal komersial dan kelancaran distribusi minyak.
IRGC Ancam Tindakan Tegas terhadap Kapal yang Mengabaikan Peringatan
Sebelumnya, pada Senin, kantor hubungan masyarakat Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang dinilai bekerja sama dengan Amerika Serikat di Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Dalam pernyataannya, IRGC memperingatkan bahwa kapal-kapal yang dianggap membantu pihak yang disebutnya sebagai “penjarah teroris” Amerika Serikat akan menghadapi respons tegas.
IRGC juga mengklaim sebuah kapal supertanker minyak mentah ketiga terkena serangan dan terbakar di Selat Hormuz pada pagi hari. Menurut pernyataan tersebut, kapal itu mengalami insiden setelah mengabaikan peringatan dan mematikan sistem navigasinya.
Namun, keterangan mengenai insiden kapal tanker dan penyebab kebakaran tersebut merupakan klaim dari pihak Iran yang masih memerlukan verifikasi independen untuk memastikan kronologi serta pihak yang bertanggung jawab.
Pembatasan Selat Hormuz Mengganggu Lalu Lintas Kapal
Iran telah membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz sejak tahap awal perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari. Menurut laporan yang menjadi dasar pemberitaan ini, konflik sempat memasuki penghentian sementara melalui kesepakatan gencatan senjata pada awal April.
Di tengah konflik dan pembatasan tersebut, aktivitas kapal komersial di Selat Hormuz dilaporkan turun tajam. Pergerakan kapal bahkan disebut merosot hingga hanya satu digit, mencerminkan besarnya gangguan terhadap lalu lintas maritim di jalur tersebut.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dan produk energi dari kawasan Teluk ke pasar internasional. Gangguan berkepanjangan di wilayah ini berpotensi memengaruhi rantai pasok energi, biaya pengiriman, serta sentimen pasar global.
Teheran Belum Bersedia Membuka Kembali Jalur Pelayaran
Pemerintah Iran menyatakan belum akan membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sebelum Amerika Serikat memenuhi tuntutan Teheran dan mengambil langkah yang dapat memulihkan kepercayaan Iran.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa akses pelayaran di Selat Hormuz masih berkaitan erat dengan perkembangan konflik dan negosiasi politik antara kedua pihak.
Pengerahan unit Angkatan Laut Iran serta peringatan terhadap kapal yang mematikan sistem navigasi menambah tekanan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut. Bagi perusahaan pelayaran dan pasar energi, kepastian mengenai keamanan jalur ini akan sangat bergantung pada perkembangan situasi militer dan diplomatik dalam beberapa waktu ke depan.

Komentar