Intelijen AS: Kekuatan Militer Iran Masih Signifikan Meski Dihantam Serangan

favicon progres.id
rudal sejjil
Rudal Sejjil (Foto: Tasnim News)

PROGRES.ID – Sejumlah pejabat Amerika Serikat menyebut Iran masih memiliki kemampuan militer yang cukup besar meskipun telah menghadapi serangan intensif dari AS dan Israel selama beberapa pekan terakhir.

Laporan CBS News yang dirilis Selasa mengutip beberapa pejabat yang mengetahui penilaian intelijen, menyatakan bahwa pernyataan resmi dari Gedung Putih dan Department of Defense kemungkinan tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan militer Iran yang masih tersisa.

Menurut tiga pejabat yang dikutip, sekitar setengah dari persediaan rudal balistik Iran beserta sistem peluncurnya masih utuh saat gencatan senjata diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada 7 April.

Selain itu, sekitar 60 persen kekuatan angkatan laut Islamic Revolutionary Guard Corps juga dilaporkan masih aktif, termasuk armada kapal cepat serang.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sekitar dua pertiga kekuatan angkatan udara Iran masih beroperasi, meskipun sebelumnya diklaim bahwa ribuan target telah dihantam, termasuk fasilitas produksi dan penyimpanan militer.

Penilaian serupa disampaikan oleh Kepala Defense Intelligence Agency, Letnan Jenderal Marinir James Adams, yang menegaskan bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal serta drone serang satu arah yang dapat mengancam pasukan AS dan sekutunya di kawasan.

Di sisi lain, pejabat tinggi AS sebelumnya menggambarkan operasi militer terhadap Iran sebagai keberhasilan besar. Presiden Trump bahkan menyatakan bahwa kekuatan laut dan udara Iran telah dilumpuhkan.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, juga menyebut operasi tersebut sebagai kemenangan militer yang signifikan, dengan dampak yang diklaim mampu melemahkan kemampuan tempur Iran dalam jangka panjang.

Menanggapi pernyataan tersebut, pejabat militer Iran menegaskan bahwa angkatan bersenjata mereka masih berada dalam posisi unggul di lapangan. Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi, menyatakan pihaknya tidak akan membiarkan narasi yang dianggap tidak sesuai fakta berkembang.

Sementara itu, ketegangan di kawasan tetap tinggi, termasuk di sekitar Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik krusial dalam dinamika konflik dan jalur utama distribusi energi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *