PROGRES.ID – Momen menarik terjadi saat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UMJ 2026 pada Senin, 21 September 2026, Yandri memberikan pertanyaan spontan kepada seorang mahasiswi mengenai tokoh pendiri Muhammadiyah.
Pertanyaan sederhana itu justru mengundang tawa ribuan mahasiswa yang hadir setelah sang mahasiswi sempat memberikan jawaban yang keliru.
Mahasiswi UMJ Sempat Menjawab KH Hasyim Asy’ari
Di hadapan mahasiswa baru, Yandri bertanya, “Siapa pendiri persyarikatan Muhammadiyah?”
Mahasiswi yang mendapat pertanyaan tersebut awalnya menjawab KH Hasyim Asy’ari.
Namun, ia langsung menyadari kekeliruannya dan segera mengoreksi jawaban tersebut.
“KH Hasyim Asy’ari… Ahmad Dahlan, Ahmad Dahlan. Ya, Ahmad Dahlan, maaf,” jawabnya.
Jawaban spontan tersebut langsung disambut gelak tawa Yandri dan para mahasiswa yang memenuhi lokasi acara.
Meski sempat salah menyebut nama, Yandri tetap memberikan apresiasi kepada mahasiswi tersebut. Ia bahkan memberikan hadiah uang tunai sebesar Rp1 juta sebagai penghargaan.
Momen tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dari kegiatan PKKMB UMJ 2026. Acara tersebut diikuti sekitar 4.100 mahasiswa baru, termasuk mahasiswa internasional dari sejumlah negara.
Siapa Pendiri Muhammadiyah?
Kesalahan jawaban tersebut berkaitan dengan dua tokoh besar dalam sejarah Islam Indonesia, yakni KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari.
Keduanya sama-sama merupakan ulama penting yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan pendidikan dan kehidupan sosial-keagamaan di Indonesia. Namun, keduanya mendirikan organisasi yang berbeda.
Berdasarkan Anggaran Dasar Muhammadiyah, organisasi tersebut didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta.
Sementara itu, KH Hasyim Asy’ari merupakan salah satu tokoh utama dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang lahir pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Ia kemudian menjadi Rais Akbar NU.
Lantas, siapa sebenarnya kedua tokoh tersebut?
Profil KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah
KH Ahmad Dahlan merupakan ulama yang dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah.
Ia lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 1869 dengan nama Muhammad Darwis. Ia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abu Bakar, merupakan imam dan khatib Masjid Besar Kauman.
Sejak muda, Ahmad Dahlan mendalami berbagai cabang ilmu agama, termasuk fikih, ilmu hadis, ilmu falak, nahwu, dan qiraah. Ia juga mempelajari sejumlah pengetahuan umum.
Sebelum mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan lebih dahulu mengembangkan pendidikan Islam. Pada awal 1912, ia mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya 18 November 1912, Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta. Organisasi ini kemudian berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan aktivitas luas di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah.
Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah sejak organisasi tersebut berdiri hingga wafat pada 1923.
Profil KH Hasyim Asy’ari, Pendiri NU
Sementara itu, KH Muhammad Hasyim Asy’ari merupakan salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah Nahdlatul Ulama.
KH Hasyim Asy’ari lahir di Jombang pada 14 Februari 1871. Ia kemudian dikenal luas sebagai pendiri sekaligus tokoh utama NU. Ia juga merupakan pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Nahdlatul Ulama berdiri di Surabaya pada 31 Januari 1926. Dalam organisasi tersebut, KH Hasyim Asy’ari dipercaya menjadi Rais Akbar dan menjalankan peran penting dalam perkembangan NU hingga wafat pada 1947.
KH Hasyim Asy’ari juga dikenal melalui kiprahnya dalam pendidikan pesantren serta perjuangan kebangsaan. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964.
Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari Sama-sama Tokoh Penting
Kesamaan nama kedua tokoh tersebut dalam pertanyaan Yandri menjadi menarik karena KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari sama-sama memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan Islam dan pendidikan di Indonesia.
Namun, organisasi yang mereka dirikan berbeda.
KH Ahmad Dahlan → Muhammadiyah, 18 November 1912.
KH Hasyim Asy’ari → Nahdlatul Ulama (NU), 31 Januari 1926.
Perbedaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah berdirinya dua organisasi Islam besar di Indonesia memiliki latar belakang dan perjalanan masing-masing.
Pesan Yandri kepada Mahasiswa Baru UMJ
Di luar momen kuis tersebut, Yandri dalam kegiatan PKKMB UMJ juga mengajak mahasiswa baru agar tidak minder dengan latar belakang keluarga maupun daerah asal.
Ia meminta mahasiswa berani memiliki cita-cita besar dan memanfaatkan masa kuliah untuk membangun karakter, kemampuan organisasi, serta keterampilan yang dapat berguna setelah lulus.
Yandri juga mendorong mahasiswa untuk melihat potensi ekonomi di desa. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya perlu berfokus pada teori akademis, tetapi juga dapat ikut mengembangkan potensi daerah dan menjadi pengusaha.
Momen ketika seorang mahasiswi sempat salah menyebut KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Muhammadiyah pun menjadi bagian yang mencairkan suasana acara. Setelah menyadari kesalahannya, ia langsung menyebut KH Ahmad Dahlan sebagai jawaban yang benar dan tetap mendapatkan hadiah dari Yandri.

Komentar