PROGRES.ID – Penembakan di luar Washington Hilton saat berlangsungnya jamuan makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih memicu pertanyaan baru mengenai sistem pengamanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Insiden itu terjadi hanya beberapa jam setelah Trump menghadiri acara tersebut. Meski dijaga ketat oleh United States Secret Service, keselamatan presiden kembali menjadi sorotan setelah serangkaian ancaman keamanan dalam dua tahun terakhir.
Pelaku yang diduga berusia 31 tahun, Cole Tomas Allen, disebut membawa senapan, pistol, dan beberapa pisau. Motif serangan serta target utama masih dalam penyelidikan, namun pejabat penegak hukum menduga sasaran utamanya adalah pejabat pemerintahan, termasuk kemungkinan Trump.
Rekaman CCTV yang beredar menunjukkan pelaku menerobos pos pemeriksaan Secret Service di lantai atas ruang ballroom hotel. Ia kemudian terlibat baku tembak dengan petugas sebelum akhirnya dilumpuhkan dan ditangkap.
Sejumlah pihak mempertanyakan bagaimana seorang bersenjata bisa mendekati lokasi acara yang dihadiri pejabat tinggi, diplomat, dan jurnalis dari berbagai negara.
Koresponden BBC di Amerika Utara, Gary O’Donoghue, yang berada di lokasi, mengatakan pengamanan di dalam hotel tidak terlalu ketat meskipun jalan-jalan di sekitar gedung telah ditutup selama berjam-jam.
Mantan Duta Besar Inggris untuk Washington, Kim Darroch, juga mengkritik sistem keamanan hotel. Menurut dia, tamu hotel dengan niat buruk hanya perlu melewati satu lapis pemeriksaan untuk bisa masuk ke area ballroom.
Trump kemudian menyebut Washington Hilton bukan gedung yang sangat aman. Ia menyinggung pentingnya pembangunan ballroom baru di Gedung Putih yang menurutnya akan memiliki perlindungan lebih kuat, termasuk tahan peluru dan anti-drone.
Presiden AS itu juga memuji respons cepat Secret Service yang segera mengevakuasi dirinya bersama Wakil Presiden JD Vance dari panggung.
Meski demikian, sejumlah pakar keamanan menilai prosedur perlindungan tetap berjalan efektif karena pelaku tidak berhasil memasuki ruang utama tempat presiden berada.
Mantan agen Federal Bureau of Investigation (FBI), Jeff Kroeger, mengatakan respons petugas sesuai protokol, yakni langsung membentuk perlindungan tubuh di sekitar presiden saat suara tembakan terdengar.
Insiden ini menjadi babak terbaru dari meningkatnya kekerasan politik di Amerika Serikat. Data United States Capitol Police menunjukkan lebih dari 8.000 ancaman diselidiki sepanjang 2023, naik 50 persen dibandingkan dengan 2018.
Trump sendiri mengaitkan kejadian itu dengan sejarah panjang ancaman terhadap presiden AS, termasuk penembakan terhadap Ronald Reagan pada 1981 dan pembunuhan Abraham Lincoln pada 1865.










