PROGRES.ID – Konflik militer di Timur Tengah kembali memanas setelah tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait dalam insiden salah tembak (friendly fire). Peristiwa ini terjadi saat pesawat-pesawat tersebut menjalankan misi dukungan dalam operasi gabungan AS–Israel terhadap Iran.
Komando Pusat Militer AS, United States Central Command (CENTCOM), mengonfirmasi insiden tersebut pada Senin malam waktu setempat.
Enam Awak Selamat, Kuwait Akui Insiden

Menurut pernyataan resmi CENTCOM, ketiga jet F-15E yang terlibat dalam Operasi Epic Fury jatuh di wilayah udara Kuwait sekitar pukul 23.03 waktu Timur AS pada 1 Maret.
“Seluruh enam awak (dua per pesawat) berhasil melontarkan diri dengan selamat, telah dievakuasi, dan kini dalam kondisi stabil,” demikian pernyataan CENTCOM.
Pemerintah Kuwait sebelumnya menyampaikan bahwa “beberapa pesawat militer AS mengalami kecelakaan” pada pagi hari. Kuwait juga disebut telah mengakui insiden salah tembak tersebut serta memberikan dukungan penuh dalam proses penyelamatan.
Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan salah satu F-15E jatuh berputar dari langit dengan api menyala di bagian belakangnya sebelum kedua pilotnya melakukan eject.
Konflik Meluas Sejak Serangan Awal
Insiden ini terjadi setelah serangan rudal besar-besaran AS–Israel yang menargetkan instalasi militer dan fasilitas pemerintah Iran pada Sabtu. Sejak itu, kawasan Asia Barat berubah menjadi medan tempur terbuka.
Pada hari pertama serangan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal dan drone bersenjata ke Tel Aviv serta pangkalan militer Amerika di berbagai negara di kawasan.
Ledakan di Teluk dan Yerusalem
Pada Senin pagi, ledakan terdengar di sejumlah kota besar di kawasan Teluk ketika Iran meningkatkan serangan balasannya dalam skala yang mengejutkan banyak pengamat militer.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Yerusalem setelah militer Israel mengumumkan telah mendeteksi peluncuran rudal dari Iran dan membunyikan sirene serangan udara.
Sementara itu, perusahaan energi raksasa Arab Saudi, Saudi Aramco, menghentikan sementara operasional kilang minyak Ras Tanura setelah fasilitas tersebut dihantam drone Iran. Serangan ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas infrastruktur energi global, terutama di tengah pasar minyak dunia yang sudah tertekan.
Dampak ke Sipil dan Penerbangan Internasional
Eskalasi konflik dalam 72 jam terakhir turut menyeret aktor non-negara seperti Hizbullah yang didukung Iran. Intensitas serangan dari kedua belah pihak terus meningkat dan berdampak luas pada populasi sipil.
Bandara Dubai di Uni Emirat Arab, salah satu pusat penerbangan tersibuk di dunia untuk rute Asia–Eropa, sempat ditutup beberapa jam akibat situasi keamanan.
Sebuah hotel mewah di kota tersebut juga dilaporkan terkena rudal Iran. Di sisi lain, Teheran mengklaim bahwa serangan rudal AS–Israel menghantam sebuah sekolah di Minab dan menewaskan lebih dari 160 orang, termasuk anak-anak.
Ketegangan Kian Tajam
Insiden salah tembak yang menjatuhkan tiga jet tempur F-15E AS menjadi bukti betapa kompleks dan berbahayanya situasi di kawasan. Dengan meningkatnya serangan balasan dan dampak terhadap infrastruktur vital, konflik ini berpotensi memicu gangguan besar terhadap stabilitas regional maupun ekonomi global.
Dunia kini memantau dengan cemas, menanti apakah eskalasi ini akan mereda atau justru berkembang menjadi perang skala penuh di Timur Tengah.












