PROGRES.ID, KUALA LUMPUR — Ada yang janggal dalam kalender Formula 1 2026. Balapan bertajuk Formula 1 Gulf Air Bahrain Grand Prix justru digelar ribuan kilometer dari Bahrain, tepatnya di Sepang International Circuit, Malaysia.
Balapan tersebut berlangsung pada 2–4 Oktober 2026. Keputusan memindahkan GP Bahrain ke Malaysia bukan sekadar pergantian sirkuit, melainkan solusi yang ditempuh Formula 1 dan FIA agar seri yang sebelumnya batal tetap bisa digelar.
GP Bahrain Batal Digelar di Sakhir
Awalnya, GP Bahrain dijadwalkan berlangsung pada April 2026 di Bahrain International Circuit. Namun, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah membuat Formula 1 dan FIA memutuskan bahwa balapan Bahrain dan Arab Saudi tidak dapat digelar sesuai jadwal.
Dalam pengumuman pada 14 Maret 2026, FIA menyebut keputusan tersebut diambil setelah evaluasi terhadap situasi yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Keselamatan dan kesejahteraan pembalap, tim, staf, ofisial, serta penggemar menjadi pertimbangan utama.
Pada saat itu, Formula 1 juga tidak langsung menunjuk lokasi pengganti. Artinya, dua seri tersebut sempat terancam hilang dari kalender musim 2026.
Mengapa Malaysia yang Dipilih?
Beberapa bulan kemudian, Formula 1 dan FIA menemukan solusi. Sepang International Circuit dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan ulang GP Bahrain.
Ada sejumlah alasan yang membuat Malaysia menjadi pilihan logis.
Pertama, Sepang sudah memiliki pengalaman panjang menggelar Formula 1. Sirkuit tersebut menjadi bagian dari kalender F1 sejak 1999 hingga 2017. Dengan demikian, fasilitas dan infrastruktur yang diperlukan untuk ajang sebesar F1 bukan sesuatu yang harus dibangun dari nol.
Kedua, posisi Malaysia sangat menguntungkan dari sisi logistik kalender F1. Sepang ditempatkan pada 2–4 Oktober, di antara GP Azerbaijan pada akhir September dan GP Singapura pada pertengahan Oktober.
Jarak Sepang dan Singapura yang relatif dekat membuat perpindahan peralatan tim menjadi jauh lebih efisien dibandingkan membawa seluruh rombongan F1 ke lokasi baru yang jauh dari rangkaian balapan tersebut.
Sepang Sudah Terbukti Layak untuk F1
Pemilihan Sepang juga tidak lepas dari karakter sirkuitnya.
Lintasan yang dirancang Hermann Tilke tersebut dikenal memiliki trek lebar, sejumlah tikungan berkecepatan tinggi, serta cuaca yang sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat Sepang kembali menarik bagi F1 setelah hampir satu dekade absen.
Formula 1 sendiri menyebut Sepang sebagai salah satu sirkuit ikonik yang memiliki sejarah panjang di kejuaraan dunia. F1 juga menilai fasilitas, pengalaman penyelenggara, serta dukungan pemerintah Malaysia menjadi faktor penting dalam kesepakatan tersebut.
Mengapa Namanya Tetap GP Bahrain?
Pertanyaan lain yang muncul adalah: kalau balapannya di Malaysia, mengapa tetap disebut GP Bahrain?
Jawabannya terletak pada kesepakatan antara Formula 1, FIA, pemerintah Bahrain, dan pemerintah Malaysia.
Balapan tersebut bukan dibuat sebagai GP Malaysia baru, melainkan merupakan penyelenggaraan ulang GP Bahrain di lokasi alternatif. Karena itu, nama resminya menjadi Formula 1 Gulf Air Bahrain Grand Prix in Malaysia.
Dengan format tersebut, Bahrain tetap mempertahankan statusnya sebagai pihak yang terkait dengan penyelenggaraan Grand Prix, sementara Malaysia menyediakan tempat untuk balapan.
Formula 1 menyebut kesepakatan tersebut sebagai upaya untuk mempertahankan sebuah Grand Prix yang sebenarnya berpotensi tidak digelar sama sekali.
Bukan Sekadar Menyelamatkan Satu Balapan
Pemindahan GP Bahrain ke Sepang juga memiliki arti lebih besar bagi kalender F1 2026.
Jika tidak ada pengganti, kalender F1 musim ini akan kehilangan satu putaran. Dengan memasukkan Malaysia, kejuaraan dapat mempertahankan rangkaian balapan yang lebih lengkap sekaligus membawa F1 kembali ke salah satu sirkuit yang pernah menjadi bagian penting kalender dunia.
Reuters melaporkan bahwa masuknya Sepang membuat kalender F1 2026 kembali menjadi 23 balapan.
Keputusan tersebut sekaligus menjadi momen bersejarah. Bernama Bahrain Grand Prix, tetapi digelar di negara lain, sebuah situasi yang sangat jarang terjadi dalam sejarah Formula 1.
Malaysia Kembali Setelah Sembilan Tahun
Bagi Malaysia, keputusan ini menjadi kabar besar karena F1 akhirnya kembali ke Sepang setelah terakhir kali menjadi tuan rumah pada 2017.
Balapan terakhir F1 di Sepang dimenangi Max Verstappen, sebelum Malaysia keluar dari kalender karena persoalan biaya penyelenggaraan dan biaya promotor.
Kini, hampir sembilan tahun setelah Verstappen berdiri di podium Sepang, Formula 1 kembali ke lintasan tersebut—bukan untuk GP Malaysia, melainkan untuk menyelamatkan GP Bahrain dari kalender yang sempat terganggu situasi geopolitik.
GP Bahrain 2026 Jadi Bagian dari Sejarah F1
Pemindahan GP Bahrain ke Malaysia pada akhirnya merupakan kombinasi antara faktor keamanan, kebutuhan kalender, efisiensi logistik, dan kesiapan fasilitas.
Bahrain tidak kehilangan Grand Prix-nya, sementara Malaysia mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah F1 lagi. Bagi Formula 1, solusi tersebut memungkinkan musim 2026 tetap berjalan dengan kalender yang lebih utuh.
Dengan demikian, ketika penggemar menyaksikan mobil-mobil F1 bertarung di Sepang pada 4 Oktober 2026, mereka sebenarnya sedang menyaksikan salah satu episode paling tidak biasa dalam sejarah Formula 1: GP Bahrain yang berlangsung di Malaysia.

Komentar