PROGRES.ID – Bentuk Bumi ternyata tidak sepenuhnya tetap. Para ilmuwan menemukan bahwa planet tempat manusia tinggal perlahan mengalami perubahan bentuk akibat pergerakan massa es dan air, terutama yang berkaitan dengan mencairnya lapisan es di wilayah kutub.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada 9 September 2026 mengungkap bahwa permukaan padat Bumi mengalami perubahan yang membuat planet ini sedikit lebih membulat.

Temuan tersebut diperoleh melalui analisis data pergerakan vertikal permukaan Bumi dari jaringan satelit navigasi global atau Global Navigation Satellite System (GNSS). Peneliti menganalisis data pengamatan sepanjang 1997 hingga 2015 untuk mengetahui bagaimana permukaan planet bergerak dari waktu ke waktu.

Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah kutub mengalami kenaikan permukaan tanah yang semakin cepat. Pada periode akhir pengamatan, kecepatannya mendekati 1 milimeter per tahun, meningkat dibandingkan sekitar 0,5 milimeter per tahun pada akhir 1990-an.

Di saat bersamaan, wilayah sekitar khatulistiwa mengalami penurunan permukaan dengan besaran yang kurang lebih sebanding.

Pencairan Es Mengubah Bentuk Bumi

Bumi selama ini dikenal bukan sebagai bola sempurna. Rotasi planet menyebabkan bagian khatulistiwa sedikit menggembung, sementara wilayah kutub relatif lebih pepat.

Namun, bentuk tersebut dapat berubah akibat pergeseran massa dalam skala besar. Salah satu pemicunya adalah mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika.

Ketika es dalam jumlah besar mencair, air yang sebelumnya tersimpan di daratan kutub berpindah menuju lautan. Perubahan beban ini membuat kerak Bumi merespons dengan bergerak.

Di kawasan kutub, berkurangnya tekanan akibat hilangnya lapisan es memungkinkan permukaan daratan perlahan terangkat. Fenomena ini berkaitan dengan proses yang dikenal sebagai glacial isostatic adjustment, yakni penyesuaian kerak Bumi terhadap perubahan beban es dalam rentang waktu panjang.

Sementara itu, perpindahan massa air menuju wilayah lintang lebih rendah turut mengubah distribusi massa planet.

Menurut penelitian tersebut, kenaikan permukaan di kutub dan penurunan di wilayah khatulistiwa menunjukkan bahwa bentuk geometris Bumi yang padat secara perlahan menjadi kurang pepat.

Perubahan Bentuk Bumi Terindikasi Semakin Cepat

Penelitian yang dilakukan oleh Christoforos Kotsakis itu juga menemukan indikasi bahwa perubahan bentuk Bumi mengalami percepatan.

Berdasarkan analisis data GNSS, sinyal kenaikan wilayah kutub meningkat dari sekitar 0,5 milimeter per tahun menjadi hampir 1 milimeter per tahun selama periode pengamatan.

Peneliti memperkirakan percepatan perubahan tersebut berada di kisaran 0,4 milimeter per tahun untuk setiap dekade.

Angka ini memang sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran Bumi. Namun, perubahan tersebut penting secara ilmiah karena memperlihatkan bagaimana permukaan planet merespons perubahan distribusi massa, termasuk akibat hilangnya es di kawasan kutub.

Penelitian ini juga menekankan bahwa perubahan geometris permukaan padat Bumi tidak selalu identik dengan perubahan medan gravitasi. Keduanya mengukur aspek berbeda dari dinamika planet.

Apakah Bumi Benar-Benar Menjadi Bola Sempurna?

Temuan tersebut tidak berarti Bumi akan berubah menjadi bola sempurna dalam waktu dekat.

Perubahan yang diamati berlangsung sangat lambat dan hanya dapat diketahui melalui pengukuran satelit serta metode geodesi berpresisi tinggi.

Bumi tetap memiliki bentuk yang sedikit pepat di kutub dan menggembung di khatulistiwa. Hanya saja, tingkat perubahan bentuknya dipengaruhi oleh berbagai proses alam, termasuk pergerakan lempeng, dinamika mantel, perubahan beban es, dan perpindahan air di permukaan.

Karena itu, hasil penelitian perlu dipahami secara spesifik: yang menjadi lebih membulat dalam temuan ini adalah bentuk geometris Bumi padat berdasarkan pergerakan permukaannya, bukan berarti seluruh aspek bentuk dan medan gravitasi Bumi berubah dengan cara yang sama.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Dinamika Planet

Temuan ini menambah bukti bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada suhu, ekosistem, dan kenaikan permukaan laut. Perubahan distribusi massa air dan es juga dapat memengaruhi bentuk fisik serta pergerakan Bumi.

Penelitian NASA yang dipublikasikan pada 2024 sebelumnya menjelaskan bahwa pencairan es, perubahan cadangan air tanah, dan kenaikan permukaan laut ikut memengaruhi pergerakan sumbu rotasi Bumi.

Perpindahan massa tersebut dapat membuat sumbu rotasi bergeser dan memperlambat putaran planet, sehingga panjang hari bertambah dalam skala waktu yang sangat kecil.

Dengan demikian, perubahan di wilayah kutub memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar hilangnya habitat es. Proses tersebut ikut memengaruhi dinamika planet yang selama ini dianggap stabil.

Para ilmuwan kini dapat memanfaatkan pengamatan satelit untuk memantau perubahan itu secara lebih terperinci. Data tersebut penting untuk memahami hubungan antara pencairan es, perubahan iklim, pergerakan kerak, dan evolusi bentuk Bumi dalam jangka panjang.